Sesampainya disana aku
sudah melihat Anggra yang sudah menunggu ku dari tadi. Aku segera
menghampirinya
“udah lama ya gra?”
“eh kamu, duduk dulu,
enggak kok baru juga sampe aku”
“oh tumben ngajakin lunch
bareng, kamu dari mana emangnya?”
“abis jalan – jalan aja,
kamu?”
“tadi abis dari....”
******
Tiba – tiba ucapan ku
terputus ketika aku melihat Putra sedang makan bersama dengan cewek yang aku
lihat di dunia maya itu. Anggra yang menyadari perubahan raut wajahku yang tiba
– tiba tidak enak megikuti arah mataku dan Anggra menyadarinya.
“kita pindah yah?” tawar Anggra
“gak usah gra, biarin aja.
Aku juga udah lupain dia kok”
“beneran? Yaudah kalo itu
mau kamu”
“iya, udah tenang aja kok”
Makanan tiba dan aku
terlibat perbincangan seru dan hangat yang diciptakan Anggra. Seketika aku
kembali ceria dengan hiburan yang diberikan oleh Anggra, dan sesekali aku
terhipnotis oleh senyum manisnya Anggra.
“graa..”
“apa sha?”
“nonton yuk”
“nonton? Yukkk katanya ada
film bagus lho”
“beneran? Mau? Yaudah
ayuuuukkkkk” ajakku yang sudah tidak sabaran
“iya sabar dong cantik,
bayar dulu”
“woooo gombal”
“biarin”
Setelah membayar semua
pesanan, aku dan Anggra segera keluar dari resto itu sambil merangkulku sekilas
aku melihat Putra melirikku tapi aku pura – pura tidak melihatnya.
“graa aku mau yang itu”
tunjukku film yang bergenre horor sesampainya di bioskop
“yang itu aja sha, yang
itu serem lho” saran Anggra
Aku dan Anggra terlibat
perdebatan kecil film mana yang harus di tonton. Dan akhirnya Anggra mengalah
dan segera membeli tiket.
****
“kamu yang ngajakin kan
nonton film itu? Kan aku udah bilang sha itu filmnya serem hahahaha” ujar Anggra
keluar dari studio
“yaudah iya nggra iya”
“eh tapi gapapa sih aku
mau kok kalo sepanjang film di meluk kamu terus hehehehe” dengan tampang
watados nya
“yeeeee ngambil kesempatan
dalam kesempitan dasar” sambil mendorong bahu nya pelan
Jam sudah menunjukan pukul
pukul 21.00 malam aku dan Anggra segera pulang kembali ke rumah
Ketika aku membuka pintu,
kulihat mama dan papa sedang duduk bersama di depannya berjejer lembaran kertas
yang aku tidak mengerti apa.
“lagi ngapain ma, pa?”
ujarku yang lantas duduk di samping papa
“ini lagi data perusahaan
papa yang ada di belanda. Kita mengalami penurun omset sampai 50%” balas papa
serius
“terus gimana jadinya?”
“berhubung kamu akan
sekolah disana, jadi papa percayakan kamu untuk mengurusi perusahaan papa
disana. Nanti disana kamu akan di dampingin oleh sekertaris papa, Om rudi”
“sedangkan papa akan
mengurusi perusahaan kita yang disini, karena perusahaan kita disini sedang
berkembang pesat disini”
“oh, yaudah kalo gitu. Aku
ke kamar dulu”
Gue mau ke belanda, dan Anggra
sama sekali gak tau kalo gue mau kesana.
Pikirku sambil menjajakan kaki di tangga satu persatu. Kepergianku ke belanda
tinggal menghitung hari saja. Sebentar lagi aku akan meninggalkan indonesia dan
akan menetap disana dalam waktu yang lama.
****
h-3 menuju keberangkatan
hari ini aku tidak ada
rencana pergi kemana – mana. Terlebih lagi Anggra juga sedang sibuk mengurusi
kuliahnya. Hari ini saja aku bangun pukul 11.30 karena semalam suntuk aku
berskype ria dengan teman ku yang di belanda. Belum apa – apa aku sudah
mendapat teman disana.
Aku yang masih mengantuk,
enggan beranjak dari tempat tidur. Terlebih lagi keadaan diluar hujan walaupun
tidak deras, namun cuaca yang dingin cocok untuk tidur kembali. Ketika aku
menarik selimutku, aku mendengar ponsel ku berbunyi. Kulihat di layar bb ku
tertera nama Anggra
“halo nggraaa...” ujar ku
dengan nada yang malas
“.......”
“aku masih ngantuk nggra”
“.......”
Aku segera menekan tombol
merah dan segera tidur kembali yang sebelumnya mengatur diam bb ku. Aku tidak
peduli Anggra menelfon ku berapa kali. Toh aku juga tidak akan mengangkatnya.
15.00 wib
Aku mengerjapkan mataku
mencoba mengatur nyawaku yang masih berada di alam sadarku. Aku melihat bb ku
terlihat lampu led berwarna merah yang berkedip, dan aku segera meraihnya.
From : Anggra
Kalo kamu udah bangun
telfon aku yah, ada yang mau aku omongin sama kamu penting.
Aku segera menekan tombol
hijau dari bb ku, tidak perlu menunggu Anggra segera menangangkat telfon ku
“halo nggra, kenapa?”
“......”
“udah lah”
“.......”
“oh gitu yaudah aku siap
siap dulu yah”
“......”
30 menit kemudian
Aku kini sudah berada di
sebuah cafe bergaya minimalis. Hanya ada keheningan diantara aku dan Anggra.
Tidak ada canda dan tawa seperti biasa, hanya ada suara percikan air dari
pancuran air di dalam cafe ini.
Aku menghela nafas berat,
tak ada percakapan sama sekali diantara aku dan Anggra. Aku hanya menatap
kosong percikan air dari luar jendela yang hujan ciptakan.
“aku dapet beasiswa ke
ausie” ujar Anggra datar
Aku pun mengalihkan pandanganku dari jendela tersebut
dan segera menatap Anggra dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sementara Anggra
hanya menatapku dengan tatapan kosong.
“selamat yah” ujarku
dengan senyum yang dipaksakan
“iya makasih, tapi sebelum
aku berangkat ke ausie aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apa?”
“aku sayang kamu”
Aku merasa tertohok
mendengar pernyataan yang Anggra lontarkan kepadaku. Entah apa yang aku rasakan
saat ini, aku tidak tau. Aku senang, namun disisi lain aku merasakan
kehilangan. Entahlah.
Aku hanya tersenyum
mendengar pernyataan tersebut. tidak tau harus berkata apa. Seketika aku
teringat akan kepergianku ke belanda yang tinggal menunggu hitungan jam saja.
“mmmm.. tapi kamu gak
perlu jawab itu semua kok. Cukup kamu dan tuhan aja yang tahu tentang perasaan
kamu ke aku”
“kamu yakin kamu gak mau
tau?”
Anggra menggeleng keras
“yaudah kalo itu mau kamu”
ujarku
Seketika keheningan
kembali menyeruak antara aku dan Anggra. Sibuk dengan pikiran masing – masing.
Mungkin Anggra memikirkan kepergiannya ke ausie, sementara aku memikirkan
kepergian ku ke belanda yang sama sekali Anggra tak ketahui. God aku harus apa?
“mmm gimana kalo kita buat
kesepakatan aja?” tiba – tiba Anggra berujar
“hah? Asal yang gak aneh –
aneh aja sih. Kamu kan suka gitu kadang – kadang aneh”
“hehe enggak kok kali ini”
“kesepakatannya apa?”
tanyaku kali ini
“4 tahun kemudian, kita
janjian di tempat ini, di waktu yang sama, dan di hari yang sama. Deal?”
“4 tahun lagi? Mmm.. oke
deh” ujarku
****
Aku hanya bisa
memperhatikan keadaan jalan selama menuju bandara soekarno-hatta. Mungkin ini
memang yang terbaik. Aku memang harus pergi. Maafkan aku nggra.
Tanpa terasa kini aku
sudah sampai di bandara. Aku tidak tahu harus apalagi, jujur aku masih bingung
akankah aku memberitahu Anggra atau tidak.
“hati – hati yah disana.”
Ucap mama sambil memelukku
“iya ma makasih ya ma.
Mama juga hati – hati disini, jangan kecapekan”
“papa, udah siapin
keperluan kamu selama disana. Nanti kamu udah ada yang jemput kok disana.”
“iya makasih ya pa”
“yaudah aku langsung masuk
ya ma,pa”
****
4 tahun kemudian
Aku duduk di sudut ruangan
ini. Ya, disinilah aku dan Anggra membuat kesepakatan dulu. Ditemani secangkir
green tea aku merenungi kejadian beberapa tahun yang lalu.
Mungkinkah Anggra
mencariku setelah kepergianku ke belanda? Mungkinkah Anggra marah kepadaku?
Jika ya aku sudah menerima semuanya. Memang ini semua salahku tidak memberitahu
siapapun.
Sudah lupakah Anggra
dengan janjinya 4 tahun yang lalu? Tidakah dia ingin tahu bagaimana perasaanku
terhadapanya? seribu pertanyaan bercambuk di dalam otakku menghantuiku.
Membuatku semakin tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Terlebih lagi
sendiri, memang disini ramai namu aku merasa sendiri. sepi. Dan hening.
Aku lantas memasang
headset dan melanjutkan membaca novel. tak ada kata – kata yang aku cerna dalam
otakku. Aku hanya memikirkan Anggra. Dimana dia saat ini? Tak ada alur pun yang
aku ikuti dalam novel tersebut. kini otakku di penuhi dengan bayangan Anggra.
Aku lantas, memasukan
novelku ke dalam tas dan aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Ketika aku
memutar badanku, terlihat jelas Anggra di depan mataku. Sekejap aku diam
terpaku, melihat senyum itu. Senyum yang selalu aku rindukan selama 4 tahun
belakangan ini.
“hai” sapanya
Aku masih saja diam
terpaku, aku hanya mengerjapkan mataku berkali – kali. Ini kah Anggra?
“sha? Are you okay?”
sambil melambaikan tangannya di hadapanku
Seketika aku tersadar “oh
yeah i’m ok”
Aku duduk kembali, namun
dengan situasi yang berbeda. Aku masih saja menatapnya. Tidakah dia marah
kepadaku? Pikirku.
“kamu apa kabar?” tanyanya
membuka pembicaraan
“aku baik kok. Kamu
gimana?”
“baik juga kok,”
Hening. Canggung. Hanya
dua kata yang dapat aku jelaskan. Entahlah. Terlalu banyak perasaan yang ingin
aku ungkapkan kepadanya. Terlalu banyak kata – kata sehingga aku tak mampu
menungkapkannya.
“ka..” ujarku bersamaan
dengan Anggra
Anggra hanya menggaruk
tengkuknya, sementara aku mengalihkan pandanganku ke jendela. Masih seperti yang
dulu, jendela ini masih saja dibasahi oleh rintikan hujan. Ya inilah tidak
berubah ketika perpisahan terakhir kalinya sebelum aku memutuskan untuk ke
belanda.
“boleh aku tanya sesuatu
sama kamu?” ujarnya
Lantas aku menatapnya dan
hanya menganggukan kepalaku saja
“waktu pertemuan terakhir
kita, bener kamu besoknya berangkat ke belanda?”
Aku merasa tertohok.
Perasaan bersalahku selama 4 tahun ini terungkap saat ini. Aku hanya bisa diam
tak mampu berkata apa – apa untuk saat ini. Jika aku bisa, ingin rasanya aku
kembali 4 tahun yang lalu.
“kamu kenapa gak bilang
sama aku? Toh juga aku gak akan marah sama kamu, tapi kenapa harus gini caranya?”
“maa..aaf” hanya itu yang
mampu aku ungkapkan
Aku hanya menunduk sambil
menahan air mataku, agar tidak jatuh. Aku menggigit bibir bawahku.
“kamu tau, aku itu nyari –
nyari kamu tau gak. Rumah kamu juga kosong terus. Dan temen – temen kamu juga
gak ada yang tau”
Aku biarkan Anggra
mengeluarkan semuanya. Aku terima. Ini semua salahku, biarkan Anggra
mengeluarkan rasa kesalnya terhadapku selama 4 tahun belakangan ini.
“ngilang gitu aja gak ada
kabar, maksud kamu apa?”
Di balik suara yang lembut
itu ada rasa kesal yang muncul. Dan aku bisa merasakan atmosfir di dalamnya.
Ya. Ini semua memang salahku.
“aku tau, ini memang
salahku. Kamu gapapa kok marah sama aku. Aku terima kok” ujarku dalam sekali
nafas
Sedangkan Anggra hanya
menatapku dengan tatapan yang sulit diungkapkan. Mungkin dia tidak mengerti
dengan jalan pikirku dulu.
“maafin aku. Ada alasan yang
gak bisa aku ceritain sama kamu dulu. Iya aku emang jahat sama kamu. Aku udah
sakitin kamu, kamu udah menderita selama ini. Maafin aku”
Aku lantas segera
mengambil tasku dan meninggalkan Anggra begitu saja di dalam. Ya memang kesan
tidak sopan, tapi aku bisa apa?
Aku segera menjalankan
mobil ku. entah aku tidak tau kemana, hingga akhirnya aku menemukan sebuah
taman yang tak berpenghuni. Aku segera keluar dan duduk di salah satu bangku yang
tersedia di taman tersebut.
Air mata ku jatuh begitu
saja. Aku menelungkupkan wajahku di tangan ku menahan isak tangisku sebisa
mungkin. Bukan. Bukan pertemuan ini yang aku inginkan. Bukan isak tangis kesedihan
yang aku mau. Bukan pertengkaran yang aku inginkan.
Yang aku inginkan adalah
pertemuan yang bahagia diikuti canda tawa satu sama lain. Yang aku inginkan
isak tangis kebahagiaan. Yang aku inginkan adalah satu KEBAHAGIAAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar