Senin, 30 Desember 2013

4 years ago last chapter

Sesampainya disana aku sudah melihat Anggra yang sudah menunggu ku dari tadi. Aku segera menghampirinya
“udah lama ya gra?”
“eh kamu, duduk dulu, enggak kok baru juga sampe aku”
“oh tumben ngajakin lunch bareng, kamu dari mana emangnya?”
“abis jalan – jalan aja, kamu?”
“tadi abis dari....”
******
Tiba – tiba ucapan ku terputus ketika aku melihat Putra sedang makan bersama dengan cewek yang aku lihat di dunia maya itu. Anggra yang menyadari perubahan raut wajahku yang tiba – tiba tidak enak megikuti arah mataku dan Anggra menyadarinya.
“kita pindah yah?” tawar Anggra
“gak usah gra, biarin aja. Aku juga udah lupain dia kok”
“beneran? Yaudah kalo itu mau kamu”
“iya, udah tenang aja kok”
Makanan tiba dan aku terlibat perbincangan seru dan hangat yang diciptakan Anggra. Seketika aku kembali ceria dengan hiburan yang diberikan oleh Anggra, dan sesekali aku terhipnotis oleh senyum manisnya Anggra.
“graa..”
“apa sha?”
“nonton yuk”
“nonton? Yukkk katanya ada film bagus lho”
“beneran? Mau? Yaudah ayuuuukkkkk” ajakku yang sudah tidak sabaran
“iya sabar dong cantik, bayar dulu”
“woooo gombal”
“biarin”
Setelah membayar semua pesanan, aku dan Anggra segera keluar dari resto itu sambil merangkulku sekilas aku melihat Putra melirikku tapi aku pura – pura tidak melihatnya.
“graa aku mau yang itu” tunjukku film yang bergenre horor sesampainya di bioskop
“yang itu aja sha, yang itu serem lho” saran Anggra
Aku dan Anggra terlibat perdebatan kecil film mana yang harus di tonton. Dan akhirnya Anggra mengalah dan segera membeli tiket.

****
“kamu yang ngajakin kan nonton film itu? Kan aku udah bilang sha itu filmnya serem hahahaha” ujar Anggra keluar dari studio
“yaudah iya nggra iya”
“eh tapi gapapa sih aku mau kok kalo sepanjang film di meluk kamu terus hehehehe” dengan tampang watados nya
“yeeeee ngambil kesempatan dalam kesempitan dasar” sambil mendorong bahu nya pelan
Jam sudah menunjukan pukul pukul 21.00 malam aku dan Anggra segera pulang kembali ke rumah
Ketika aku membuka pintu, kulihat mama dan papa sedang duduk bersama di depannya berjejer lembaran kertas yang aku tidak mengerti apa.
“lagi ngapain ma, pa?” ujarku yang lantas duduk di samping papa
“ini lagi data perusahaan papa yang ada di belanda. Kita mengalami penurun omset sampai 50%” balas papa serius
“terus gimana jadinya?”
“berhubung kamu akan sekolah disana, jadi papa percayakan kamu untuk mengurusi perusahaan papa disana. Nanti disana kamu akan di dampingin oleh sekertaris papa, Om rudi”
“sedangkan papa akan mengurusi perusahaan kita yang disini, karena perusahaan kita disini sedang berkembang pesat disini”
“oh, yaudah kalo gitu. Aku ke kamar dulu”
Gue mau ke belanda, dan Anggra sama sekali  gak tau kalo gue mau kesana. Pikirku sambil menjajakan kaki di tangga satu persatu. Kepergianku ke belanda tinggal menghitung hari saja. Sebentar lagi aku akan meninggalkan indonesia dan akan menetap disana dalam waktu yang lama.
****
h-3 menuju keberangkatan
hari ini aku tidak ada rencana pergi kemana – mana. Terlebih lagi Anggra juga sedang sibuk mengurusi kuliahnya. Hari ini saja aku bangun pukul 11.30 karena semalam suntuk aku berskype ria dengan teman ku yang di belanda. Belum apa – apa aku sudah mendapat teman disana.
Aku yang masih mengantuk, enggan beranjak dari tempat tidur. Terlebih lagi keadaan diluar hujan walaupun tidak deras, namun cuaca yang dingin cocok untuk tidur kembali. Ketika aku menarik selimutku, aku mendengar ponsel ku berbunyi. Kulihat di layar bb ku tertera nama Anggra
“halo nggraaa...” ujar ku dengan nada yang malas
“.......”
“aku masih ngantuk nggra”
“.......”
Aku segera menekan tombol merah dan segera tidur kembali yang sebelumnya mengatur diam bb ku. Aku tidak peduli Anggra menelfon ku berapa kali. Toh aku juga tidak akan mengangkatnya.
15.00 wib
Aku mengerjapkan mataku mencoba mengatur nyawaku yang masih berada di alam sadarku. Aku melihat bb ku terlihat lampu led berwarna merah yang berkedip, dan aku segera meraihnya.
From : Anggra
Kalo kamu udah bangun telfon aku yah, ada yang mau aku omongin sama kamu penting.
Aku segera menekan tombol hijau dari bb ku, tidak perlu menunggu Anggra segera menangangkat telfon ku
“halo nggra, kenapa?”
“......”
“udah lah”
“.......”
“oh gitu yaudah aku siap siap dulu yah”
“......”
30 menit kemudian
Aku kini sudah berada di sebuah cafe bergaya minimalis. Hanya ada keheningan diantara aku dan Anggra. Tidak ada canda dan tawa seperti biasa, hanya ada suara percikan air dari pancuran air di dalam cafe ini.
Aku menghela nafas berat, tak ada percakapan sama sekali diantara aku dan Anggra. Aku hanya menatap kosong percikan air dari luar jendela yang hujan ciptakan.
“aku dapet beasiswa ke ausie” ujar Anggra datar
Aku pun  mengalihkan pandanganku dari jendela tersebut dan segera menatap Anggra dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sementara Anggra hanya  menatapku dengan tatapan kosong.
“selamat yah” ujarku dengan senyum yang dipaksakan
“iya makasih, tapi sebelum aku berangkat ke ausie aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apa?”
“aku sayang kamu”
Aku merasa tertohok mendengar pernyataan yang Anggra lontarkan kepadaku. Entah apa yang aku rasakan saat ini, aku tidak tau. Aku senang, namun disisi lain aku merasakan kehilangan. Entahlah.
Aku hanya tersenyum mendengar pernyataan tersebut. tidak tau harus berkata apa. Seketika aku teringat akan kepergianku ke belanda yang tinggal menunggu hitungan jam saja.
“mmmm.. tapi kamu gak perlu jawab itu semua kok. Cukup kamu dan tuhan aja yang tahu tentang perasaan kamu ke aku”
“kamu yakin kamu gak mau tau?”
Anggra menggeleng keras
“yaudah kalo itu mau kamu” ujarku
Seketika keheningan kembali menyeruak antara aku dan Anggra. Sibuk dengan pikiran masing – masing. Mungkin Anggra memikirkan kepergiannya ke ausie, sementara aku memikirkan kepergian ku ke belanda yang sama sekali Anggra tak ketahui. God aku harus apa?
“mmm gimana kalo kita buat kesepakatan aja?” tiba – tiba Anggra berujar
“hah? Asal yang gak aneh – aneh aja sih. Kamu kan suka gitu kadang – kadang aneh”
“hehe enggak kok kali ini”
“kesepakatannya apa?” tanyaku kali ini
“4 tahun kemudian, kita janjian di tempat ini, di waktu yang sama, dan di hari yang sama. Deal?”
“4 tahun lagi? Mmm.. oke deh” ujarku
****
Aku hanya bisa memperhatikan keadaan jalan selama menuju bandara soekarno-hatta. Mungkin ini memang yang terbaik. Aku memang harus pergi. Maafkan aku nggra.
Tanpa terasa kini aku sudah sampai di bandara. Aku tidak tahu harus apalagi, jujur aku masih bingung akankah aku memberitahu Anggra atau tidak.
“hati – hati yah disana.” Ucap mama sambil memelukku
“iya ma makasih ya ma. Mama juga hati – hati disini, jangan kecapekan”
“papa, udah siapin keperluan kamu selama disana. Nanti kamu udah ada yang jemput kok disana.”
“iya makasih ya pa”
“yaudah aku langsung masuk ya ma,pa”
****
4 tahun kemudian
Aku duduk di sudut ruangan ini. Ya, disinilah aku dan Anggra membuat kesepakatan dulu. Ditemani secangkir green tea aku merenungi kejadian beberapa tahun yang lalu.
Mungkinkah Anggra mencariku setelah kepergianku ke belanda? Mungkinkah Anggra marah kepadaku? Jika ya aku sudah menerima semuanya. Memang ini semua salahku tidak memberitahu siapapun.
Sudah lupakah Anggra dengan janjinya 4 tahun yang lalu? Tidakah dia ingin tahu bagaimana perasaanku terhadapanya? seribu pertanyaan bercambuk di dalam otakku menghantuiku. Membuatku semakin tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Terlebih lagi sendiri, memang disini ramai namu aku merasa sendiri. sepi. Dan hening.
Aku lantas memasang headset dan melanjutkan membaca novel. tak ada kata – kata yang aku cerna dalam otakku. Aku hanya memikirkan Anggra. Dimana dia saat ini? Tak ada alur pun yang aku ikuti dalam novel tersebut. kini otakku di penuhi dengan bayangan Anggra.
Aku lantas, memasukan novelku ke dalam tas dan aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Ketika aku memutar badanku, terlihat jelas Anggra di depan mataku. Sekejap aku diam terpaku, melihat senyum itu. Senyum yang selalu aku rindukan selama 4 tahun belakangan ini.
“hai” sapanya
Aku masih saja diam terpaku, aku hanya mengerjapkan mataku berkali – kali. Ini kah Anggra?
“sha? Are you okay?” sambil melambaikan tangannya di hadapanku
Seketika aku tersadar “oh yeah i’m ok”
Aku duduk kembali, namun dengan situasi yang berbeda. Aku masih saja menatapnya. Tidakah dia marah kepadaku? Pikirku.
“kamu apa kabar?” tanyanya membuka pembicaraan
“aku baik kok. Kamu gimana?”
“baik juga kok,”
Hening. Canggung. Hanya dua kata yang dapat aku jelaskan. Entahlah. Terlalu banyak perasaan yang ingin aku ungkapkan kepadanya. Terlalu banyak kata – kata sehingga aku tak mampu menungkapkannya.
“ka..” ujarku bersamaan dengan Anggra
Anggra hanya menggaruk tengkuknya, sementara aku mengalihkan pandanganku ke jendela. Masih seperti yang dulu, jendela ini masih saja dibasahi oleh rintikan hujan. Ya inilah tidak berubah ketika perpisahan terakhir kalinya sebelum aku memutuskan untuk ke belanda.
“boleh aku tanya sesuatu sama kamu?” ujarnya
Lantas aku menatapnya dan hanya menganggukan kepalaku saja
“waktu pertemuan terakhir kita, bener kamu besoknya berangkat ke belanda?”
Aku merasa tertohok. Perasaan bersalahku selama 4 tahun ini terungkap saat ini. Aku hanya bisa diam tak mampu berkata apa – apa untuk saat ini. Jika aku bisa, ingin rasanya aku kembali 4 tahun yang lalu.
“kamu kenapa gak bilang sama aku? Toh juga aku gak akan marah sama kamu, tapi kenapa harus gini caranya?”
“maa..aaf” hanya itu yang mampu aku ungkapkan
Aku hanya menunduk sambil menahan air mataku, agar tidak jatuh. Aku menggigit bibir bawahku.
“kamu tau, aku itu nyari – nyari kamu tau gak. Rumah kamu juga kosong terus. Dan temen – temen kamu juga gak ada yang tau”
Aku biarkan Anggra mengeluarkan semuanya. Aku terima. Ini semua salahku, biarkan Anggra mengeluarkan rasa kesalnya terhadapku selama 4 tahun belakangan ini.
“ngilang gitu aja gak ada kabar, maksud kamu apa?”
Di balik suara yang lembut itu ada rasa kesal yang muncul. Dan aku bisa merasakan atmosfir di dalamnya. Ya. Ini semua memang salahku.
“aku tau, ini memang salahku. Kamu gapapa kok marah sama aku. Aku terima kok” ujarku dalam sekali nafas
Sedangkan Anggra hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diungkapkan. Mungkin dia tidak mengerti dengan jalan pikirku dulu.
“maafin aku. Ada alasan yang gak bisa aku ceritain sama kamu dulu. Iya aku emang jahat sama kamu. Aku udah sakitin kamu, kamu udah menderita selama ini. Maafin aku”
Aku lantas segera mengambil tasku dan meninggalkan Anggra begitu saja di dalam. Ya memang kesan tidak sopan, tapi aku bisa apa?
Aku segera menjalankan mobil ku. entah aku tidak tau kemana, hingga akhirnya aku menemukan sebuah taman yang tak berpenghuni. Aku segera keluar dan duduk di salah satu bangku yang tersedia di taman tersebut.
Air mata ku jatuh begitu saja. Aku menelungkupkan wajahku di tangan ku menahan isak tangisku sebisa mungkin. Bukan. Bukan pertemuan ini yang aku inginkan. Bukan isak tangis kesedihan yang aku mau. Bukan pertengkaran yang aku inginkan.
Yang aku inginkan adalah pertemuan yang bahagia diikuti canda tawa satu sama lain. Yang aku inginkan isak tangis kebahagiaan. Yang aku inginkan adalah satu KEBAHAGIAAN.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar