“ma, tadi pihak
penyelenggara beasiswa telfon aku”
Papa dan mama lantas
memperhatikan aku. Diam menungguku untuk melanjutkan ucapanku yang tertunda. Ya
seperti biasa, aku, papa, dan mama makan malam bersama.
“aku dapet beasiswa itu
dan aku udah mutusin untuk ambil beasiswa itu”
“yaudah kalo itu mau kamu,
papa juga gak bisa larang kamu pergi kan?”
“Kamu berangkat kapan
emangnya?” tanya mama disela makan
“belum tau, mereka nunggu
konfirmasi dari akunya dulu. Mungkin besok pagi aku akan kesana buat kabarin mereka,
mungkin setelah itu mereka akan jelasin apa aja yang harus aku siapin buat
kesana”
“selamat ya anak papa
akhirnya bisa ke belanda juga. Papa bangga sama kamu”
“makasih papa. mmmm tapi
ma,pa aku boleh minta sesuatu gak?”
“apa?” tanya mama
“tolong kepergian ku nanti
jangan kasih tau siapa – siapa ya pa, ma. Papa sama mama sama keluarga kita yang
tau. Apalagi tetangga sebelah”
“tante ira maksud kamu?”
“iya ma”
“yaudah kalo itu mau kamu”
Selesai makan aku langsung
naik ke kamarku, aku segera mengambil teropong bintang hadiah pemberian dari
omaku yang di bandung. Oma tau sejak kecil aku memang suka memandang langit
hanya untuk melihat bintang dan segera ke balkon.
SREEEEKKKKK
Ketika aku membuka pintu
balkon kamar, aku melihat Putra sedang duduk di kursi santai sambil memeluk
gitar sementara Anggra hanya diam termenung sambil memandangi kamera slrnya.
Aku hanya diam tanpa menegur mereka sama sekali. Aku lantas mendirikan tripotku
lalu memasang teropongku itu. Tak lupa earphone yang berbentuk kepala doraemon
sudah bertengger di kepalaku.
Malam ini bintangnya tidak
begitu banyak, namun ada satu bintang yang menarik perhatianku. Ada satu
bintang kecil yang berada di tengah – tengah bintang besar yang bersinar. Dua
bintang yang bersinar itu saling memancarkan sinarnya satu sama lain. Sedangkan
bintang kecil yang di tengah tidak terlalu memancarkan sinarnya. Sepertinya
bintang itu mengalami hal yang sama denganku.
Aku menghela nafasku
mengingat kisah cintaku seperti ini. Mengapa tuhan menakdirkan seperti ini? Aku
merasakan hp ku bergetar menandakan pesan masuk
From : Anggra
Bisa keluar sebentar gak?
Ada yang mau gue bicarain sama lo
Kembali aku menghembuskan
nafasku begitu berat ketika baca sms yang dikirim Anggra. Sekarang apa lagi ya
tuhan? Batinku
To : Anggra
Oke tunggu di bawah ya
Send
Aku menuruni tangga satu
per satu seperti biasa aku melihat papa dan nonton acara berita yang sedang
banyak di bicarakan orang. Aku hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja.
“mau kemana sha?” tanya
mama
“itu keluar sebentar sama Anggra,
tuh Anggra nya udah didepan”
“oh yaudah hati – hati ya”
“iya ma”
Ketika aku membuka pintu Anggra
sedang berdiri membelakangi pintu rumah ku sambi memasukan tangannya ke dalam
saku celana pendeknya.
“nggra” panggil ku
Anggra lantas berbalik
melihatku dan memberikan senyum manisnya kepadaku. Tiba – tiba aku merasakan
desiran dari dalam tubuhku. Entahlah ketika aku melihat senyum itu ada perasaan
aneh yang ku rasa.
“sha? Kok bengong?”
“hah? Engga kok hehehe mau
kemana kita?” tanyaku sambil menghilangkan kegugupan ku
“ke taman aja deh”
Selama perjalan tak ada yang
memulai pembicaraan sama sekali. Semua hening. Hanya jangkrik malam dan
binatang kecil lainnya yang menjadi pengantarku selama perjalanan ini. Aku yang
tidak tahan seperti ini akhirnya memutuskan membuka percakapan dengannya, ya
walau terlihat canggung
“gimana kabar lo nggra?”
“hhh? Oh baik kok gue, lo
sendiri gimana?”
“fine”
“lo lanjut dimana abis
ini?”
“belum tau deh, kalo lo?”
bohongku
“sama gue juga bingung”
Akhir aku sampai juga di
taman, terlihat tidak begitu sepi malam ini. Banyak orang yang seumuran
denganku asik bermain bersama teman atau mungkin pacarnya. Dan aku memutuskan
untuk duduk di salah satu sudut taman.
Hening. Tak ada yang
membuka pembicaraan sama sekali, hanya suara hembusan angin malam yang menusuk
tulang. Aku yang merasa kedinginan hanya bisa menggosokan kedua tanganku sekali
aku tiup kecil karena aku hanya menggunakan hot pants dan kaos pendek saja.
Seketika aku merasa ada yang meletakan jaket di tubuhku. Ya Anggra iya melepas
jaketnya dan memberikannya kepadaku.
“makasih” ujarku sambil
tersenyum
“urwell”
Kembali aku terpaku akan
senyumnya itu. Desiran itu hadir lagi, melonjak di dalam kalbu mengungkapkan
ada yang aneh dari dalam tubuhku ini ketika aku melihat senyum itu.
“sha? Are you ok?”
“hah? Yeah i’m ok”
“ada perlu apa nggra sama
gue?” tanya ku menghilangkan nervous ku
“gapapa lagi pengen jalan
aja sama lo sha hehehe abis gue kangen sama lo” jujurnya sambil menggaruk
tengkuknya
“ya ampun Anggraaaaaaaa
gue kira ada apa”
“hehehehe kenapa? Gue
ganggu lo ya?”
“enggak kok, santai aja
lagi”
“mmm sha gue boleh tanya
sesuatu gak?”
“tanya apa nggra?”
“gimana lo sama Putra?”
Aku merasa tertiban pohon yang
tumbang ketika aku mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Anggra kepadaku.
Aku pun terdiam, tidak tau harus menjawab apa.
“gue salah ya sha tanya
itu sama lo? Enggg yaudah deh gak usah di bahas lagi hehehe” ujarnya salting
Aku hanya tersenyum miris
tak menjawab pernyataan Anggra sama sekali. Hela nafasku hembuskan keluar dari
organ mulutku
“nggra boleh minta satu
permintaan gak sama lo?”
“hah? Boleh kok”
“gue mau lo temenin gue ya
setiap malem selama seminggu kedepan ya”
“kok permintaan lo agak
aneh si sha? Harus banget seminggu? Kenapa gak setiap malem aja?”
“hehehe gapapa kok nggra.
Ye itu sih mau lo hahahaha” ujarku tertawa lepas
Suasana kini mulai mencair
seperti dulu kala. Kini aku menemukan Anggra yang selalu membuatku nyaman dan
tertawa kembali lagi ketika aku berada disampingnya juga senyum evilnya ketika
ia menjaili ku. Gue bakal kangen banget sama lo nggra kalo gue udah di belanda
nanti. Pikirku
“nggra foto – foto yuk”
Anggra hanya mengangguk
lantas mengeluarkan ipod nya dari saku celana pendeknya. Ketika aku mengarahkan
ipod ke depan, tiba – tiba Anggra merangkulku dan itu membuat detak jantungku
tidak karuan. Aroma khas maskulin menyeruak begitu saja ketika ku berada di
dekatnya. God what happen to me?
Sebisa mungkin aku
menyembunyikan rona merahku dan meminimalisir detak jantungku. Terlebih lagi
aku dan Anggra duduk di tempat yang terang. Gue kenapa sih? Pikirku
Hingga sampai perjalanan
pulang, rangkulan Anggra tak ia lepaskan. Dan entah mengapa aku merasa nyaman
dan tenang. Ada hal berbeda disini, percakapan gue – elo kini berubah menjadi
aku – kamu how believe it !
“yaudah aku masuk dulu ya
gra” ujarku ketika sampai di depan pintu
“okeeee cantik” sambil
mengusap kepalaku
“dasar gombal”
“biarin” sambil
menjulurkan lidahnya
Ketika aku masuk ke rumah,
papa dan mama masih serius nonton film action hingga aku lewat pun mereka tidak
sadar sama sekali. Aku lantas mencuci muka dan mengganti pakaianku dengan
piyama setiba di kamarku. Saat aku lihat bb, ada satu pesan masuk dari Anggra
From : Anggra
Sleep tight baby, see u
next night {}
Aku hanya tersenyum
membaca pesan yang dikirim oleh. Apakah ku jatuh cinta lagi? Gimana bisa? Aku
segera memainkan jari ku diatas keyword bb ku
To : Anggra
You too~ don’t forget at 8
p.m J
Aku lantas mematikan lampu
kamarku, dan kini hanya lampu tidur yang dipancarkan dari samping tempat
tidurku yang berwarna – warni. To night so beautiful. Thank you Anggra i will
miss you so much.
***
Pukul 10.00
Aku sudah berada di kantor
kedutaan untuk mengurus semua berkas ku hari ini. Tak sampai beberapa lama
berkas ku sudah selesai diurus, dan beruntung aku disana aku akan mendapatkan
orang tua asuh selama aku kuliah disana. Jadi aku tidak perlu mencari hotel,
terlebih lagi rumah orang tua asuh ku dekat dengan kampusku nanti.
Jam sudah menunjukan pukul
12.00 dua jam sudah aku menyelesaikan semua keperluanku menjelang kepergianku
ke belanda. Aku masuk ke dalam mobil, dan segera meninggalkan kantor duta besar
menuju mall untuk makan.
DDDRRRRTTTTT
From : Anggra
Wanna lunch together?
Aku segera membalas pesan
dari Anggra
To : Anggra
With pleasure boy, where
we will lunch?
Drrrrtttt
From : Anggra
I will wait u at mkg 1
Aku segera melajukan mobil
ku ke tempat yang sudah di beritahu oleh Anggra, tidak butuh waktu lama karna
memang jaraknya dekat dengan kantor dubes.
Sesampainya disana aku
sudah melihat Anggra yang sudah menunggu ku dari tadi. Aku segera
menghampirinya
“udah lama ya gra?”
“eh kamu, duduk dulu,
enggak kok baru juga sampe aku”
“oh tumben ngajakin lunch
bareng, kamu dari mana emangnya?”
“abis jalan – jalan aja,
kamu?”
“tadi abis dari....”
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar