Senin, 30 Desember 2013

4 years ago chapter 6

“ma, tadi pihak penyelenggara beasiswa telfon aku”
Papa dan mama lantas memperhatikan aku. Diam menungguku untuk melanjutkan ucapanku yang tertunda. Ya seperti biasa, aku, papa, dan mama makan malam bersama.
“aku dapet beasiswa itu dan aku udah mutusin untuk ambil beasiswa itu”
“yaudah kalo itu mau kamu, papa juga gak bisa larang kamu pergi kan?”
“Kamu berangkat kapan emangnya?” tanya mama disela makan
“belum tau, mereka nunggu konfirmasi dari akunya dulu. Mungkin besok pagi aku akan kesana buat kabarin mereka, mungkin setelah itu mereka akan jelasin apa aja yang harus aku siapin buat kesana”
“selamat ya anak papa akhirnya bisa ke belanda juga. Papa bangga sama kamu”
“makasih papa. mmmm tapi ma,pa aku boleh minta sesuatu gak?”
“apa?” tanya mama
“tolong kepergian ku nanti jangan kasih tau siapa – siapa ya pa, ma. Papa sama mama sama keluarga kita yang tau. Apalagi tetangga sebelah”
“tante ira maksud kamu?”
“iya ma”
“yaudah kalo itu mau kamu”
Selesai makan aku langsung naik ke kamarku, aku segera mengambil teropong bintang hadiah pemberian dari omaku yang di bandung. Oma tau sejak kecil aku memang suka memandang langit hanya untuk melihat bintang dan segera ke balkon.
SREEEEKKKKK
Ketika aku membuka pintu balkon kamar, aku melihat Putra sedang duduk di kursi santai sambil memeluk gitar sementara Anggra hanya diam termenung sambil memandangi kamera slrnya. Aku hanya diam tanpa menegur mereka sama sekali. Aku lantas mendirikan tripotku lalu memasang teropongku itu. Tak lupa earphone yang berbentuk kepala doraemon sudah bertengger di kepalaku.
Malam ini bintangnya tidak begitu banyak, namun ada satu bintang yang menarik perhatianku. Ada satu bintang kecil yang berada di tengah – tengah bintang besar yang bersinar. Dua bintang yang bersinar itu saling memancarkan sinarnya satu sama lain. Sedangkan bintang kecil yang di tengah tidak terlalu memancarkan sinarnya. Sepertinya bintang itu mengalami hal yang sama denganku.
Aku menghela nafasku mengingat kisah cintaku seperti ini. Mengapa tuhan menakdirkan seperti ini? Aku merasakan hp ku bergetar menandakan pesan masuk
From : Anggra
Bisa keluar sebentar gak? Ada yang mau gue bicarain sama lo
Kembali aku menghembuskan nafasku begitu berat ketika baca sms yang dikirim Anggra. Sekarang apa lagi ya tuhan? Batinku
To : Anggra
Oke tunggu di bawah ya
Send
Aku menuruni tangga satu per satu seperti biasa aku melihat papa dan nonton acara berita yang sedang banyak di bicarakan orang. Aku hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja.
“mau kemana sha?” tanya mama
“itu keluar sebentar sama Anggra, tuh Anggra nya udah didepan”
“oh yaudah hati – hati ya”
“iya ma”
Ketika aku membuka pintu Anggra sedang berdiri membelakangi pintu rumah ku sambi memasukan tangannya ke dalam saku celana pendeknya.
“nggra” panggil ku
Anggra lantas berbalik melihatku dan memberikan senyum manisnya kepadaku. Tiba – tiba aku merasakan desiran dari dalam tubuhku. Entahlah ketika aku melihat senyum itu ada perasaan aneh yang ku rasa.
“sha? Kok bengong?”
“hah? Engga kok hehehe mau kemana kita?” tanyaku sambil menghilangkan kegugupan ku
“ke taman aja deh”
Selama perjalan tak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Semua hening. Hanya jangkrik malam dan binatang kecil lainnya yang menjadi pengantarku selama perjalanan ini. Aku yang tidak tahan seperti ini akhirnya memutuskan membuka percakapan dengannya, ya walau terlihat canggung
“gimana kabar lo nggra?”
“hhh? Oh baik kok gue, lo sendiri gimana?”
“fine”
“lo lanjut dimana abis ini?”
“belum tau deh, kalo lo?” bohongku
“sama gue juga bingung”
Akhir aku sampai juga di taman, terlihat tidak begitu sepi malam ini. Banyak orang yang seumuran denganku asik bermain bersama teman atau mungkin pacarnya. Dan aku memutuskan untuk duduk di salah satu sudut taman.
Hening. Tak ada yang membuka pembicaraan sama sekali, hanya suara hembusan angin malam yang menusuk tulang. Aku yang merasa kedinginan hanya bisa menggosokan kedua tanganku sekali aku tiup kecil karena aku hanya menggunakan hot pants dan kaos pendek saja. Seketika aku merasa ada yang meletakan jaket di tubuhku. Ya Anggra iya melepas jaketnya dan memberikannya kepadaku.
“makasih” ujarku sambil tersenyum
“urwell”
Kembali aku terpaku akan senyumnya itu. Desiran itu hadir lagi, melonjak di dalam kalbu mengungkapkan ada yang aneh dari dalam tubuhku ini ketika aku melihat senyum itu.
“sha? Are you ok?”
“hah? Yeah i’m ok”
“ada perlu apa nggra sama gue?” tanya ku menghilangkan nervous ku
“gapapa lagi pengen jalan aja sama lo sha hehehe abis gue kangen sama lo” jujurnya sambil menggaruk tengkuknya
“ya ampun Anggraaaaaaaa gue kira ada apa”
“hehehehe kenapa? Gue ganggu lo ya?”
“enggak kok, santai aja lagi”
“mmm sha gue boleh tanya sesuatu gak?”
“tanya apa nggra?”
“gimana lo sama Putra?”
Aku merasa tertiban pohon yang tumbang ketika aku mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Anggra kepadaku. Aku pun terdiam, tidak tau harus menjawab apa.
“gue salah ya sha tanya itu sama lo? Enggg yaudah deh gak usah di bahas lagi hehehe” ujarnya salting
Aku hanya tersenyum miris tak menjawab pernyataan Anggra sama sekali. Hela nafasku hembuskan keluar dari organ mulutku
“nggra boleh minta satu permintaan gak sama lo?”
“hah? Boleh kok”
“gue mau lo temenin gue ya setiap malem selama seminggu kedepan ya”
“kok permintaan lo agak aneh si sha? Harus banget seminggu? Kenapa gak setiap malem aja?”
“hehehe gapapa kok nggra. Ye itu sih mau lo hahahaha” ujarku tertawa lepas
Suasana kini mulai mencair seperti dulu kala. Kini aku menemukan Anggra yang selalu membuatku nyaman dan tertawa kembali lagi ketika aku berada disampingnya juga senyum evilnya ketika ia menjaili ku. Gue bakal kangen banget sama lo nggra kalo gue udah di belanda nanti. Pikirku
“nggra foto – foto yuk”
Anggra hanya mengangguk lantas mengeluarkan ipod nya dari saku celana pendeknya. Ketika aku mengarahkan ipod ke depan, tiba – tiba Anggra merangkulku dan itu membuat detak jantungku tidak karuan. Aroma khas maskulin menyeruak begitu saja ketika ku berada di dekatnya.  God what happen to me?
Sebisa mungkin aku menyembunyikan rona merahku dan meminimalisir detak jantungku. Terlebih lagi aku dan Anggra duduk di tempat yang terang. Gue kenapa sih? Pikirku
Hingga sampai perjalanan pulang, rangkulan Anggra tak ia lepaskan. Dan entah mengapa aku merasa nyaman dan tenang. Ada hal berbeda disini, percakapan gue – elo kini berubah menjadi aku – kamu how believe it !
“yaudah aku masuk dulu ya gra” ujarku ketika sampai di depan pintu
“okeeee cantik” sambil mengusap kepalaku
“dasar gombal”
“biarin” sambil menjulurkan lidahnya
Ketika aku masuk ke rumah, papa dan mama masih serius nonton film action hingga aku lewat pun mereka tidak sadar sama sekali. Aku lantas mencuci muka dan mengganti pakaianku dengan piyama setiba di kamarku. Saat aku lihat bb, ada satu pesan masuk dari Anggra
From : Anggra
Sleep tight baby, see u next night {}
Aku hanya tersenyum membaca pesan yang dikirim oleh. Apakah ku jatuh cinta lagi? Gimana bisa? Aku segera memainkan jari ku diatas keyword bb ku
To : Anggra
You too~ don’t forget at 8 p.m J
Aku lantas mematikan lampu kamarku, dan kini hanya lampu tidur yang dipancarkan dari samping tempat tidurku yang berwarna – warni. To night so beautiful. Thank you Anggra i will miss you so much.
***
Pukul 10.00
Aku sudah berada di kantor kedutaan untuk mengurus semua berkas ku hari ini. Tak sampai beberapa lama berkas ku sudah selesai diurus, dan beruntung aku disana aku akan mendapatkan orang tua asuh selama aku kuliah disana. Jadi aku tidak perlu mencari hotel, terlebih lagi rumah orang tua asuh ku dekat dengan kampusku nanti.
Jam sudah menunjukan pukul 12.00 dua jam sudah aku menyelesaikan semua keperluanku menjelang kepergianku ke belanda. Aku masuk ke dalam mobil, dan segera meninggalkan kantor duta besar menuju mall untuk makan.
DDDRRRRTTTTT
From : Anggra
Wanna lunch together?
Aku segera membalas pesan dari Anggra
To : Anggra
With pleasure boy, where we will lunch?
Drrrrtttt
From : Anggra
I will wait u at mkg 1
Aku segera melajukan mobil ku ke tempat yang sudah di beritahu oleh Anggra, tidak butuh waktu lama karna memang jaraknya dekat dengan kantor dubes.
Sesampainya disana aku sudah melihat Anggra yang sudah menunggu ku dari tadi. Aku segera menghampirinya
“udah lama ya gra?”
“eh kamu, duduk dulu, enggak kok baru juga sampe aku”
“oh tumben ngajakin lunch bareng, kamu dari mana emangnya?”
“abis jalan – jalan aja, kamu?”
“tadi abis dari....”
******


Tidak ada komentar:

Posting Komentar