6 bulan kemudian
“yeeeeee gue lulussssss !”
teriak vira
“iya wah selamat yah vir”
peluk fasha
“iya congrats juga ya buat
lo sha”
“thank you dear”
Hari itu pengumuman
kelulusan SMA. Pengumuman sengaja di berikan di sekolah agar bisa merayakan
kelulusan bersama – sama. Setelah 3 tahun lamanya, inilah hasil dari semua
pembelajaran selama ini.
“gimana sama beasiswa lo
sha?”
“belum ada kabar vir, lo
gimana?”
“kayanya gue bakal lanjut
disini aja deh”
“yaudah kalo itu pilihan
lo”
Akhirnya aku dan vira
memutuskan untuk pulang bersama, karena vira hari ini tidak membawa kendaraan
pribadi. Selama perjalanan tidak seperti biasanya, hening tak ada yang membuka
percakapan sama sekali. Semua sibuk dengan pikiran masing – masing. Tiba – tiba
terlintas wajah Putra begitu saja. Ah, sudah berapa lama aku tak bertemu
dengannya? Seminggu? Dua minggu? Sebulan? Bahkan lebih dari itu. Selama 6 bulan
lamanya ia hampir tak bertemu dengannya. Walaupun satu sekolah hampir tidak
pernah bertemu dengannya, bahkan dirumah sekalipun.
“apa kabar ya itu anak?”
gumam fasha pelan sambil mengarahkan roda kemudi memasuki perumahan elit
“hah? Lo ngomong apaan sha
barusan?”
“hah? Ngomong apa? Enggak
kok”
“oh, eh yaudah gue turun
disini aja deh sha, nanti gue minta jemput aja sama supir gue, kayanya pikiran
lo lagi kacau deh”
“oh ok”
“thank’s ya, take care ya”
“sip”
Tidak seperti biasanya
jalan ini macet, entah ada apa aku tidak terlalu memikirkannya. Terlintas
kembali di pikiranku tentang Putra. Ketika ia melihat kearah lain, ia melihat
sebuah mobil yang di dalamnya terdapat dua cowok yang ia kenal yang sedang
bercanda gurau dengan orang disampingnya. Anggra dan Putra.
Aku pun memperhatikan
kedua pria itu, untung kaca mobil milikku dipasang gelap jadi mereka tidak bisa
melihatku. Tiba – tiba hp ku berdering ada panggilan masuk.
“halo ma kenapa?”
“.......”
“sekarang? Hmmmmm yaudah
deh aku kesana”
Mobil jazz itu kini sudah
terparkir di sebuah butik besar daerah jakarta pusat. Aku yg masih memakai
seragam sekolahnya dengan menggunakan sun glasses coklat dan tas gembloknya
memasuki butik itu.
“siang mba, ada yang bisa
di bantu?”
“mama ada di ruangannya
kan mba?” sambil melepas kaca matanya
“oh mba fasha ada kok,
diatas”
“oke makasih mba”
Sesampainya diatas
terlihat sang mama sedang berbincang dengan seorang wanita seumurnya. Entah ia
tidak memperdulikan, dan ketika ia membuka pintu ruang kerja mamanya wanita itu
menengok dan itu adalah tante ira.
“ketok dulu kenapa sih sha
kalo masuk kebiasaan” oceh sang mama
“duh mama anak sendiri
juga dateng ke kantornya malah diomelin, yang nyuruh aku kesini kan mama”
Sedangkan tante ira hanya
tertawa mendengar percakapan antara aku dan mama.
“eh tante, kapan dateng
tan?”
“belum lama kok, gimana
hasilnya sha? Lulus?”
“lulus kok tan”
“kirain enggak” ujar mama
“yeee emang mama” balas ku
sambil menjulurkan lidahku
“yeeee enak aja mama lulus
dong”
“au ah laper mau cari
makan”
Aku menuruni tangga sambil
membalas pesan dari teman ku yang banyak mengucapkan selamat atas kelulusan ku,
begitu juga sebaliknya denganku. Seketika aku mendengar suara yang familiar
saat aku mengarahkan pandanganku lurus kedepan aku melihat dua orang laki –
laki yang aku kenal, Anggra dan Putra.
Aku pun diam membeku
dihadapan kedua remaja pria itu. Entah mengapa mereka melakukan hal yang sama,
diam dihadapanku. Ah Putra. Sudah lama aku merindukan wajah itu. Sekian lama
aku tak bertemu dengannya.
Aku hanya menyunggingkan
senyum tipis ku saja kepada kakak beradik itu. Dan segera jalan, ketika aku
tepat ada disisi samping Putra ia berbicara sesuatu.
“long time no see”
bisiknya kepadaku
Aku berhenti melangkah,
dan menengok ke sampingku ia hanya tersenyum kepadaku. Ah senyum itu yang kini
aku rindukan, Pernyataan yang begitu pelan dan sepele namun sangat pas di hati
ini. Aku kembali melangkahkan kaki ke tujuan semula. Cari makan.
30 menit kemudian
Kini aku sibuk dengan
bakmi yang aku beli dekat parkiran mobil butik mama, sementara Anggra sibuk
memainkan ponselnya begitu juga dengan Putra. Ketika aku sedang menikmati
bakmi, aku merasakan getar di saku kantong baju ku dan aku melihat dua pesan
masuk.
From : Putra
Miss you
From : Anggra
Gue kangen sha sama lo
Uhuk uhuk uhuk
Semua orang yang berada di
ruangan ini sontak melihatku. Aku tersedak saat aku membaca pesan datang secara
bersamaan dari dua kakak beradik itu. Aku segera mengambil minuman yang
tersedia di meja tamu ruang kantor mama ini, dan meneguknya dengan cepat. Aku
menatap Anggra dan Putra secara bergantian. Apa coba maksudnya? Pikirku
“kamu gapapa sha?” tanya
mama
“hah? Gak kok ma cuman
KAGET aja” ujarku penuh penekanan
Sementara mereka berdua
menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Namun aku tidak menggubrisnya
dan kembali memakan bakmi ku.
“ma, aku balik ya aku juga
gak ngapa – ngapain disini”
“yaudah deh kalo gitu,
mama juga masih lama kayanya. Nih tante ira banyak maunya” sambil terkekeh
“yaudah balik duluan ya
semuanya”
“ya hati – hati sha” ujar
mama
Aku kembali menggunakan
sun glasses ku, hari ini matahari bersinar dengan teriknya. Ketika aku ingin
membuka pintu mobilku, tiba – tiba tangan ku ada yang menahan.
“bisa bicara sebentar?”
ujar Putra
Aku hanya menatapnya
dengan ekspresi datarku saja. Dan membuka pintu mobil, tanpa basa basi dia
mengikuti masuk kedalam mobil.
“ada apa?” Tanyaku to the
point
“aku kangen sama kamu”
ucapnya
Aku menatap lurus kedepan
melihat jejeran mobil yang terparkir begitu saja. Aku juga put. Aku kangen sama
kamu melebihi apapun. Batinku. Lidah ini terasa kelu untuk mengucapkan kalimat
itu.
“aku tau kamu juga
merasakan hal yang sama kan denganku?” tanyanya
Lagi lagi aku hanya diam.
Tak mampu berbicara apa – apa, sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak
jatuh. Aku tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menghapadi ini semua.
“aku harus gimana lagi
sha? Jujur aku gak bisa lepasin kamu gitu aja sha. Aku gak bisa lupain kamu”
Aku mecengkram kuat stir
mobil, entah Putra melihatnya atau tidak aku sudah tidak mempedulikannya sama
sekali. Semakin kuat aku menahan air mataku yang kini sudah siap meneteskan
bulir – bulirnya.
“6 bulan kita gak ketemu,
dan aku gak tau kabar kamu sama sekali sha”
“stop put, stop. Bisa
keluar dari mobil gue sekarang?”
“aku masih sayang sama
kamu sha”
“bisa keluar sekarang?”
“sha liat mata ku sha liat
sha” paksanya sambil menarik bahuku untuk memandangnya
Dan ketika aku
memandangnya disaat itu juga air mataku menetes diwajahku begitu saja. Aku
hanya bisa menangis. Sekian lama aku pendam itu semua, inilah akhir dari semua
ini. Sekian lama aku memendam tangisku untuknya akhirnya keluarlah air mata
ini.
“ini kan yang kamu mau
put? Ini kan?” ujar ku sambil terisak
“bukan ini sha, bukan
tangisan ini yang aku mau” ujarnya pelan namun masih terdengar olehku
“kamu mau tau? Sekian lama
aku pendam tangis ini untuk kamu put, tapi kamu tahu apa? Emang kamu peduli
sama aku put?”
“........”
“enggak kan?”
“.......”
“sakit tau gak sih, liat
kamu sama cewek itu. Walau itu hanya di dunia maya aja. Oke ini emang salah aku
yang gak jawab pernyataan itu. Jadi yaudah lupain aja, anggap gak ada apa –
apa. Dan kalau aku akan jawab itu kayanya gak berpengaruh apa dan yang ada
malah memperkeruh keadaan aja.”
“enggak ini salah aku”
ujarnya kini mulai membuka suara
“sekarang kamu bisa keluar
put, urusan kita udah selesai”
Putra menjatuhkan dirinya
pada senderan jok sambil menutupi wajahnya.
“ya tuhan kenapa jadi
gini” gumamnya
“kamu hati – hati ya bawa
mobilnya. Jangan ngebut” ujarnya lantas mencium puncak kepalaku dari samping
Aku segera menelungkupkan
wajahku diatas stir mobil. Aku hanya bisa menangis tidak tau harus lakukan
apalagi. Sakit memang ketika harus mengakhiri ini semua. Tuhan apa salah ku?
Batinku
Sesampai dirumah aku
lantas masuk ke kamarku menangis sepuas hati ku. Dan tanpaku perintah otakku
memutar semua kenangan indahku saat bersamanya. Sakit. Ya hanya itu yang ku
rasakan. Aku merasakan ada yang bergetar di tempat tidurku aku segera memencet
tombol hijau di hpku
“.....”
“siang, iya benar. Ada apa
ya mba?”
“......”
“oh baiklah nanti saya
akan konfirmasi lagi”
Ya, aku baru saja
mendapatkan kabar baik. Aku berhasil mendapatkan beasiswa ke belanda. Dan tekad
ku sudah bulat. Aku akan ambil beasiswa itu. Terlebih lagi kondisi hatiku
seperti ini. Aku perlu kembali menata hatiku yang telah hancur seperti ini.
ΔΔΔΔ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar