Senin, 30 Desember 2013

4 years ago chapter 5

6 bulan kemudian
“yeeeeee gue lulussssss !” teriak vira
“iya wah selamat yah vir” peluk fasha
“iya congrats juga ya buat lo sha”
“thank you dear”
Hari itu pengumuman kelulusan SMA. Pengumuman sengaja di berikan di sekolah agar bisa merayakan kelulusan bersama – sama. Setelah 3 tahun lamanya, inilah hasil dari semua pembelajaran selama ini.
“gimana sama beasiswa lo sha?”
“belum ada kabar vir, lo gimana?”
“kayanya gue bakal lanjut disini aja deh”
“yaudah kalo itu pilihan lo”
Akhirnya aku dan vira memutuskan untuk pulang bersama, karena vira hari ini tidak membawa kendaraan pribadi. Selama perjalanan tidak seperti biasanya, hening tak ada yang membuka percakapan sama sekali. Semua sibuk dengan pikiran masing – masing. Tiba – tiba terlintas wajah Putra begitu saja. Ah, sudah berapa lama aku tak bertemu dengannya? Seminggu? Dua minggu? Sebulan? Bahkan lebih dari itu. Selama 6 bulan lamanya ia hampir tak bertemu dengannya. Walaupun satu sekolah hampir tidak pernah bertemu dengannya, bahkan dirumah sekalipun.
“apa kabar ya itu anak?” gumam fasha pelan sambil mengarahkan roda kemudi memasuki perumahan elit
“hah? Lo ngomong apaan sha barusan?”
“hah? Ngomong apa? Enggak kok”
“oh, eh yaudah gue turun disini aja deh sha, nanti gue minta jemput aja sama supir gue, kayanya pikiran lo lagi kacau deh”
“oh ok”
“thank’s ya, take care ya”
“sip”
Tidak seperti biasanya jalan ini macet, entah ada apa aku tidak terlalu memikirkannya. Terlintas kembali di pikiranku tentang Putra. Ketika ia melihat kearah lain, ia melihat sebuah mobil yang di dalamnya terdapat dua cowok yang ia kenal yang sedang bercanda gurau dengan orang disampingnya. Anggra dan Putra.
Aku pun memperhatikan kedua pria itu, untung kaca mobil milikku dipasang gelap jadi mereka tidak bisa melihatku. Tiba – tiba hp ku berdering ada panggilan masuk.
“halo ma kenapa?”
“.......”
“sekarang? Hmmmmm yaudah deh aku kesana”
Mobil jazz itu kini sudah terparkir di sebuah butik besar daerah jakarta pusat. Aku yg masih memakai seragam sekolahnya dengan menggunakan sun glasses coklat dan tas gembloknya memasuki butik itu.
“siang mba, ada yang bisa di bantu?”
“mama ada di ruangannya kan mba?” sambil melepas kaca matanya
“oh mba fasha ada kok, diatas”
“oke makasih mba”
Sesampainya diatas terlihat sang mama sedang berbincang dengan seorang wanita seumurnya. Entah ia tidak memperdulikan, dan ketika ia membuka pintu ruang kerja mamanya wanita itu menengok dan itu adalah tante ira.
“ketok dulu kenapa sih sha kalo masuk kebiasaan” oceh sang mama
“duh mama anak sendiri juga dateng ke kantornya malah diomelin, yang nyuruh aku kesini kan mama”
Sedangkan tante ira hanya tertawa mendengar percakapan antara aku dan mama.
“eh tante, kapan dateng tan?”
“belum lama kok, gimana hasilnya sha? Lulus?”
“lulus kok tan”
“kirain enggak” ujar mama
“yeee emang mama” balas ku sambil menjulurkan lidahku
“yeeee enak aja mama lulus dong”
“au ah laper mau cari makan”
Aku menuruni tangga sambil membalas pesan dari teman ku yang banyak mengucapkan selamat atas kelulusan ku, begitu juga sebaliknya denganku. Seketika aku mendengar suara yang familiar saat aku mengarahkan pandanganku lurus kedepan aku melihat dua orang laki – laki yang aku kenal, Anggra dan Putra.
Aku pun diam membeku dihadapan kedua remaja pria itu. Entah mengapa mereka melakukan hal yang sama, diam dihadapanku. Ah Putra. Sudah lama aku merindukan wajah itu. Sekian lama aku tak bertemu dengannya.
Aku hanya menyunggingkan senyum tipis ku saja kepada kakak beradik itu. Dan segera jalan, ketika aku tepat ada disisi samping Putra ia berbicara sesuatu.
“long time no see” bisiknya kepadaku
Aku berhenti melangkah, dan menengok ke sampingku ia hanya tersenyum kepadaku. Ah senyum itu yang kini aku rindukan, Pernyataan yang begitu pelan dan sepele namun sangat pas di hati ini. Aku kembali melangkahkan kaki ke tujuan semula. Cari makan.
30 menit kemudian
Kini aku sibuk dengan bakmi yang aku beli dekat parkiran mobil butik mama, sementara Anggra sibuk memainkan ponselnya begitu juga dengan Putra. Ketika aku sedang menikmati bakmi, aku merasakan getar di saku kantong baju ku dan aku melihat dua pesan masuk.
From : Putra
Miss you
From : Anggra
Gue kangen sha sama lo
Uhuk uhuk uhuk
Semua orang yang berada di ruangan ini sontak melihatku. Aku tersedak saat aku membaca pesan datang secara bersamaan dari dua kakak beradik itu. Aku segera mengambil minuman yang tersedia di meja tamu ruang kantor mama ini, dan meneguknya dengan cepat. Aku menatap Anggra dan Putra secara bergantian. Apa coba maksudnya? Pikirku
“kamu gapapa sha?” tanya mama
“hah? Gak kok ma cuman KAGET aja” ujarku penuh penekanan
Sementara mereka berdua menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Namun aku tidak menggubrisnya dan kembali memakan bakmi ku.
“ma, aku balik ya aku juga gak ngapa – ngapain disini”
“yaudah deh kalo gitu, mama juga masih lama kayanya. Nih tante ira banyak maunya” sambil terkekeh
“yaudah balik duluan ya semuanya”
“ya hati – hati sha” ujar mama
Aku kembali menggunakan sun glasses ku, hari ini matahari bersinar dengan teriknya. Ketika aku ingin membuka pintu mobilku, tiba – tiba tangan ku ada yang menahan.
“bisa bicara sebentar?” ujar Putra
Aku hanya menatapnya dengan ekspresi datarku saja. Dan membuka pintu mobil, tanpa basa basi dia mengikuti masuk kedalam mobil.
“ada apa?” Tanyaku to the point
“aku kangen sama kamu” ucapnya
Aku menatap lurus kedepan melihat jejeran mobil yang terparkir begitu saja. Aku juga put. Aku kangen sama kamu melebihi apapun. Batinku. Lidah ini terasa kelu untuk mengucapkan kalimat itu.
“aku tau kamu juga merasakan hal yang sama kan denganku?” tanyanya
Lagi lagi aku hanya diam. Tak mampu berbicara apa – apa, sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menghapadi ini semua.
“aku harus gimana lagi sha? Jujur aku gak bisa lepasin kamu gitu aja sha. Aku gak bisa lupain kamu”
Aku mecengkram kuat stir mobil, entah Putra melihatnya atau tidak aku sudah tidak mempedulikannya sama sekali. Semakin kuat aku menahan air mataku yang kini sudah siap meneteskan bulir – bulirnya.
“6 bulan kita gak ketemu, dan aku gak tau kabar kamu sama sekali sha”
“stop put, stop. Bisa keluar dari mobil gue sekarang?”
“aku masih sayang sama kamu sha”
“bisa keluar sekarang?”
“sha liat mata ku sha liat sha” paksanya sambil menarik bahuku untuk memandangnya
Dan ketika aku memandangnya disaat itu juga air mataku menetes diwajahku begitu saja. Aku hanya bisa menangis. Sekian lama aku pendam itu semua, inilah akhir dari semua ini. Sekian lama aku memendam tangisku untuknya akhirnya keluarlah air mata ini.
“ini kan yang kamu mau put? Ini kan?” ujar ku sambil terisak
“bukan ini sha, bukan tangisan ini yang aku mau” ujarnya pelan namun masih terdengar olehku
“kamu mau tau? Sekian lama aku pendam tangis ini untuk kamu put, tapi kamu tahu apa? Emang kamu peduli sama aku put?”
“........”
“enggak kan?”
“.......”
“sakit tau gak sih, liat kamu sama cewek itu. Walau itu hanya di dunia maya aja. Oke ini emang salah aku yang gak jawab pernyataan itu. Jadi yaudah lupain aja, anggap gak ada apa – apa. Dan kalau aku akan jawab itu kayanya gak berpengaruh apa dan yang ada malah memperkeruh keadaan aja.”
“enggak ini salah aku” ujarnya kini mulai membuka suara
“sekarang kamu bisa keluar put, urusan kita udah selesai”
Putra menjatuhkan dirinya pada senderan jok sambil menutupi wajahnya.
“ya tuhan kenapa jadi gini” gumamnya
“kamu hati – hati ya bawa mobilnya. Jangan ngebut” ujarnya lantas mencium puncak kepalaku dari samping
Aku segera menelungkupkan wajahku diatas stir mobil. Aku hanya bisa menangis tidak tau harus lakukan apalagi. Sakit memang ketika harus mengakhiri ini semua. Tuhan apa salah ku? Batinku
Sesampai dirumah aku lantas masuk ke kamarku menangis sepuas hati ku. Dan tanpaku perintah otakku memutar semua kenangan indahku saat bersamanya. Sakit. Ya hanya itu yang ku rasakan. Aku merasakan ada yang bergetar di tempat tidurku aku segera memencet tombol hijau di hpku
“.....”
“siang, iya benar. Ada apa ya mba?”
“......”
“oh baiklah nanti saya akan konfirmasi lagi”
Ya, aku baru saja mendapatkan kabar baik. Aku berhasil mendapatkan beasiswa ke belanda. Dan tekad ku sudah bulat. Aku akan ambil beasiswa itu. Terlebih lagi kondisi hatiku seperti ini. Aku perlu kembali menata hatiku yang telah hancur seperti ini.
ΔΔΔΔ


Tidak ada komentar:

Posting Komentar