Kami kini sudah berada di bangku taman menikmati matahari terbenam di
sini. Memancarkan pesona tersendiri untukku, di temani yah bisa di bilang orang
yang ‘dulu’ Aku sukai. Tapi itu dulu, entah untuk sekarang ini.
Tiba – tiba terdengar deringan ponsel milik Putra, lalu ia segera
mengangkatnya
“halo,”
“lagi di rumah kenapa?”
“yah Aku gak bisa, mau temenin mama belanja.”
“cih pinter banget bohong lo” gumam ku pelan
“iya maaf ya, bye”
Pasti Riva. Pikirku.
“siapa?” Tanya ku
“pengen tau banget?” ujarnya
“ck”
“hahaha riva”
“oh, bisa banget bohong nya” sindirku sambil melihat matahari yang
perlahan tenggelam
“abisnya gue males sama dia”
Aku yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahiku, menatapnya bingung.
Entah apa yang ada di otak nya saat ini.
“dia kan cewek lo?”
“terus? Gue bosen sama dia.” Ujarnya sarkatis
WHAT THE HELL?????? DIA BILANG APA? BOSEN?. Pikirku.
“kenapa lo jadian sama dia?”
Keluarlah alur yang mengalir begitu saja dari mulutnya itu. Dan dari
ceritanya itu aku baru tau kalau dia baru mengenal Riva beberapa hari saja.
Selain itu dia juga tidak tau apa – apa tentang Riva, dan awalnya dia jadian
adalah hanya untuk menjalin sebuah status saja. Dengan maksud lain dia memang
tidak punya perasaan apa – apa dengan Riva.
“dari awal gue masuk SMA gue udah suka sama kakak kelas,” ujarnya
kepadaku
Sontak aku melihatnya yang berada di samping ku sambil menaikkan alis ku
sebelah. Hei permainan macam apa lagi yang di berikan olehnya? Pikirku. Sungguh
aku tak mengerti jalan pikirannya juga apa yang ada di otaknya ini.
“so kenapa lo jadian sama riva?” Tanya ku
“gue pesimis kalo gue gak bisa jadi pacarnya. Secara gue baru masuk
sini, dan gue langsung suka sama kakak kelas. Imposible aja rasanya,”
“kenapa gak lo coba aja?”
“udah kok,”
“terus responnya dia apa?”
“welcome sih, tapi..”
“but what?”
“nothing,” jawabnya pelan
“dia anak osis?” Tanya ku lebih jauh lagi
Putra hanya menggelengkan kepala nya
“Terus? Kok lo bisa kenal sama dia”
“itu juga secara gak sengaja,”
“siapa sih emangnya? Kelas berapa?” Tanya ku yang semakin penasaran
“lo kenal kok orangnya,” jawabnya
“ya terus siapa?” ujar ku yang benar – benar penasaran di buatnya
“gue baru deket sama dia pas ldks, waktu gue sakit” ucapnya sambil
mengembangkan senyum di wajahnya
JLEB ! gue? Permainan apa sih yang dia berikan kepada ku ini? Apa maksud
dari semua ini? Umpat ku dalam hati. Namun aku hanya pura – pura bodoh saja
menanggapinya
“oh anak pasti anak PMR yah?”
“bukan,” ujarnya singkat “lo pikir aja sendiri” sambil pergi
meninggalkan ku yang masih bengong duduk di bangku taman. Sepertinya ia kesal,
hahaha biarlah.
Aku langsung mengejarnya dan pulang ke rumah ku. Sampai di kamar aku
membersihkan diriku lalu berleha – leha di tempat tidur kesayangan ku itu.
“apa maksud omongannya tadi?” gumam ku
“apa orang yang di maksud itu gue?”
“ah gak mungkin, tapi mungkin juga sih pas ldks itu kan cuman ada gue di
ruang PMR itu dan gue juga bukan anak PMR. Arghsssssss”
Aku pun memutuskan untuk pergi balkon kamar ku, untuk menghirup udara
malam agar menghilangkan kepenatan tentangnya itu sambil melihat bintang malam yang
memancarkan sinar nya di malam hari itu.
Aku memasang headphone di telinga ku dan mulai memutar lagu dari iphone
ku. Semilir angin malam menerpa wajahku menimbulkan kesan sejuk untuk ku
You make me so hot
Make me wanna drop
You’re so ridicoulus
I can barely stop
I can hardly stop
“bintangnya bagus,”
You make me wanna scream
You’re so faboulus
You’re so good for me baby, baby
You’re so good for me baby, baby
Bukk bukk
Aku pun melepas headphone ku mengambil gumpalan kertas lecek
‘liat samping lo’ isi surat itu
Aku langsung menengok ke arah samping dimana balkon kamar Putra berada.
Disana sudah ada Putra, sambil memegang beberapa karton untuk ku. Aku hanya
bengong melihatnya kali ini, apa yang di lakukannya sih malem – malem gini?
‘masih inget pembicaraan kita yang tadi sore?’ tulisnya di karton
Aku hanya menganggukkan kepala ku saja, aku juga tidak mau teriak –
teriakkan nanti di sangka orang tidak waras lagi.
‘mau tau orang yang gue maksud itu siapa?’
Lagi – lagi aku hanya menganggukan kepala ku saja
‘elo’
“WHAAAATTTTTT?” Ujar ku teriak
Putra menepuk jidatnya melihat ku dengan respon yang sangat terkejut
sambil berteriak seperti tadi.
‘gak pake teriak juga kali’ tulisnya di karton lagi
Aku hanya cengengesan sambil menunjukan jari telunjuk dan jari tengah, aku
pun masuk ke dalam untuk mengambil white board kecil dengan spidol dan tak lupa
juga pembersihnya
‘hehehe maaf,’ tulis ku kali ini
‘So?’ Tanya nya
‘so what?’ balas ku
Terlihat wajah kesalnya lagi, aku hanya terkekeh pelan melihatnya
‘lo mau gak jadi pacar gue?’
Kali ini ke kagetan ku tidak aku keluarkan dari suara ku, namun melalui
tulisan
‘HHAAAHHH?’
Putra hanya berdecak kesal melihat balasan ku, lalu dia menulis lagi di
karton
‘KAMU MAU GAK JADI PACAR AKU?’
Aku hanya tersenyum melihatnya
‘putusin dulu cewek lo, baru gue jawab’ balasku. Mengingat Putra masih
memiliki seorang kekasih. Aku juga tidak bisa menerima nya selagi ia berstatus
pacar orang lain, nanti bisa di judge perebut pacar orang lagi. Tapi emang
bener sih hehehehe
Terlihat kekecewaan di wajahnya namun ia segera menulis lagi di karton
‘oke aku akan putusin dia malam ini juga,’
“WHAAAAATTTT?” kaget ku ketika membaca tulisan dari nya
Aku segera menulis di white board kecil ku
‘LO JANGAN GILA !!!!!!!’
Ketika melihat tulisan ku dia hanya tersenyum meremehkan dengan ponsel yang
sudah di genggam nya
‘KAMU DENGER INI !’ tulisnya lagi
Lalu dia me-load speaker pembicaraan nya dengan Riva. Tak perlu waktu
lama untuk menjawab sambungan dari Putra
“halo”
“hai, tumben kamu telfon aku ada apa?” Tanya suara di seberang
“kita putus,” ujar Putra sambil tersenyum kepada ku
Heh dasar cowok gila ! umpat ku dalam hati
“APA? TAPI AKU MASIH SAYANG SAMA KAMU”
“maaf tapi aku gak bisa,”
“tap…”
Tuttt tuuttt
Aku hanya kaget melihat nya memperlakukan cewek seperti itu. Sungguh
cara yang menyakitkan untuk cewek itu.
“udah kan?” Tanya nya “so?”
“elo gila ! mutusin cewek seenak jidat lo. Jangan – jangan nanti lo
putusin gue juga kaya gitu lagi” ucapku
“jadian aja belom udah ngomongin putus, gak gue itu sayang sama lo. Gue
gak mau ngelakuin kesalahan lagi. Cukup sekali aja gue lakuin itu.” Jawabnya
dramatis
Aku tersenyum mendengar pernyataan nya barusan “gue gak bisa jawab
sekarang, oke?”
Terlihat sedikit kekecewaan dari raut wajahnya namun Putra segera
melebarkan senyumnya kembali
“oke gak papa, so kapan lo mau jawab?” seulas senyum ketulusan bahagia
dari wajahnya
“kalo gue udah siap, oke.” Ujar ku
Putra hanya mengangguk menandakan ia setuju dengan pernyataanku
“yaudah sana tidur udah malem,”
Aku hanya mengangguk menuruti nya walau sebenarnya belum ngantuk. Aku
segera masuk ke dalam
“sha..”
“ya?”
“emmm.. good night have nice dream and sleep tight ”
“thank you, you too” ujar ku sambil menutup pintu balkon kamarku
Aku langsung mengambil bantal dan berteriak sekencangnya, aku yakin
dengan di tutupi bantal teriakan ku tidak akan terdengar jelas. Aku yakin, Putra
masih berada di luar. Malam ini adalah malam terindah untuk ku.
Drrrttt drrrtttt
Vira’s called
“halloooooo…”
“cih kenapa lo seneng banget?”
“iya kenapa gak boleh?”
Akhirnya aku terlibat percakapan panjang dengan Vira, seketika kantuk ku
hilang akibat pembicaraan seru antara aku dan vira. Tepat dugaan ku, ketika aku
ceritakan apa yang aku alami seharian ini vira kaget dan dengan hebohnya ia
menanyakan dengan jelasnya, layaknya mengintrogasi seorang terdakwa.
Dan ketika menceritakan kejadiannya putusnya Putra dengan riva, vira
hanya tertawa terbahak – bahak.
“dasar cowok lo gila !!” ujar vira di sela tawanya
ΔΔΔΔ
Pagi cerah mengawali hari ku dengan nyawa yang belum terkumpul aku
membuka pintu balkon menghirup udara pagi yang sejuk di pagi ini. Aku menengok
ke balkon kamar Putra, sepertinya ia belum bangun. Aku hanya tersenyum
mengingat kejadian semalem.
Aku memutuskan untuk bersepeda keliling perumahan baru ku ini. Segera
aku bersih – bersih dan mengganti piyama ku. Setelah selesai, tak lupa
headphone dan iphone aku bawa. Setelah izin dan tak lupa mengisi air minum di
dalam tumbler ku aku segera bersepeda.
Ketika aku melewati sebuah taman, terdapat beberapa anak kecil sedang
bermain bersama temannya sungguh lucu melihatnya tertawa bersama belum mengenal
jahatnya dunia. Ingin aku rasanya kembali ke masa kecil ku dulu, dimana hanya
ada tawa yang selalu menghiasi hari – hari ku. Tidak seperti sekarang ini
ketika mulai mengenal apa itu cinta ya seketika berubah, ketika kita mulai tau
jahatnya dunia seperti apa. Sampai pada akhirnya..
BRUKKK
“aw..” ringis ku
Sontak orang yang berada di sekitar ku menolong dan membawa ku ke
pinggir jalan. Karena asik memperhatikan anak kecil itu, aku tidak
memperhatikan jalan ku
“kakak gak apa – apa?” Tanya salah satu anak kecil itu
“enggak kok kakak gak apa – apa cuman luka dikit aja” ujar ku santai
“tapi kan lutut kakak beldalah banyak cekali,” ujar seorang anak laki –
laki dengan cadelnya membuat aku gemas kepadanya
Aku hanya tersenyum kepadanya. Aku pun mencoba berusaha untuk berdiri
namun hasilnya nihil. Terlalu sakit kaki ku ini, juga karena sudah mengeluarkan
darah terlalu banyak aku pun kesulitan untuk berjalan. Dan untuk kedua kalinya
aku mencoba berdiri semakin terasa sakit lutut ku ini
“masih mau ngelak kalo lo gak apa – apa?” Tanya seorang cowok
Ketika aku mendongakkan kepala ku, Putra dengan wajah dingin and itu terlihat
menyeramkan untuk ku. Mungkin karena aku selalu melihat ia tersenyum dan kali
ini aku harus melupakan senyum di wajahnya itu.
“kak putla itu kakak nya jatoh kok gak di tolongin sih kak?” ujar anak
laki - laki yang cadel tadi
“iya nih kakak kok malah di marahin,” kata anak perempuan dengan bandana
pink di kepalanya
Aku hanya terkekeh melihat beberapa anak kecil memarahi Putra dengan
lucu nya.
“kak putla jangan liatin aja dong, bantuin kakak cantik nya berdiri”
Putra yang sudah habis ke sabarannya akibat di salahkan oleh anak kecil
tadi segera membelakangi aku untuk menggondongku. Aku pun kaget melihat
perlakuan Putra kepada ku
“hah?”
“makin lama lo di situ, makin lama anak – anak ini marahin gue, cepet
naik”
“sepeda gue?”
Aku yang melihat Putra sudah tidak sabar hanya menghela nafas lalu
segera naik ke pundak nya. Aku hanya dapat tersenyum di balik punggung nya itu.
Sesampai di teras rumah Putra segera masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil
kotak P3K untuk membersihkan luka ku.
“maka nya kalo naik sepeda hati – hati. Kan kalo gini siapa juga yang
repot? Gue juga kan,” ujar nya sambil membersihkan lutut ku yang berlumuran
banyak darah
“aw… yaudah kalo lo gak mau repot sini gue bersihiin sendiri aja, sana
masuk” kata ku dengan ketus sambil merebut kapas yang di pegang Putra
“gak usah, udah gue aja” elak Putra
“kalo gak ikhlas gak usah Putra,” kata ku yang mulai terpancing emosinya
Tiba – tiba Putra menekan kencang luka ku
“AWWWW… SAKIT !” Reflex aku mendorong Putra agar menjauhi ku
Papa yang mendengar teriakan ku dari luar langsung keluar,melihat ku
seperti itu panic dan segera membawa ku masuk ke dalam yang sebelumnya
mengucapkan terima kasih kepada nya. Ck ngapain juga ngucapin makasih. Pikirku.
Sekarang aku hanya dapat berbaring di tempat tidur sambil memainkan PSP yang
baru di kirim dari Tante Shan dari Hongkong.
Drrrttt drrrrtttt
1 new message from +6289*********
From : +6289*********
Maafin gue yah tadi, gue udah keterlaluan sama lo
Aku yang membaca nya sudah tidak mood aku pun mengabaikannya dan
melanjutkan main PSP yang sempat tertunda itu.
Drrrttt drrrrrttt
1 new message from +6289*********
From : +6289*********
Gue tau gue salah, maafin gue please L
Aku pun melanjutkan bermain PSP ku lagi, sampai akhirnya Putra menelfon
ku berkali - kali namun aku mengabaikan nya. Kekesalan ku kini sudah memuncak Putra
menelfon ku sejak tadi namun aku reject sampai akhirnya aku melepas baterai
Iphone ku dan ku buang ke sembarang tempat.
Setelah di beri obat oleh papa, karena papa seorang dokter jadi papa
tahu apa yang harus dilakukan nya aku segera istirahat dan beberapa jam
kemudian akan di cek kembali. Karena luka ku cukup parah dan belum kering maka
papa tidak mengizinkan ku kemana – mana bahkan untuk turun ke bawah makan pun
tidak.
15.00 W.I.B
“aw..”
Ketika aku mencoba menggerakkan kaki ku yang di balut perban masih
sangat perih ku rasa.
TOK TOK TOK
Saat aku melihat ke pintu balkon Putra sudah menunggu sejak tadi
mungkin.
“boleh gue masuk?” Tanya nya dari luar
Aku hanya melengos melihatnya membuka pintu balkon kamar ku. Jujur aku
masih kesal sekali mengingat kejadian tadi. Sekarang dia sudah duduk di pinggir
tempat tidur ku. Aku pun mengambil PSP dan mulai terbawa permainan yang aku
main kan, sementara aku mengabaikan Putra.
“sha gue tau lo masih marah sama gue,” ujar nya
Terus ngapain lo ke sini udah tau gue masih marah sama lo. Umpat ku
dalam hati
“maafin gue yah, gue udah keterlaluan sama lo”
“…..”
“sha maafin gue,”
“….”
Putra pun merebut PSP ku dengan paksa karena dari tadi aku abaikan
“LO BISA GAK SIH DENGERIN GUE SEBENTAR HAH?” bentak Putra tiba - tiba
“DARI TADI GUE UDAH DENGERIN LO NGOMONG, DAN GUE JUGA UDAH MAAFIN ELO ! LO
MAU APA LAGI HAH? PERGI DARI KAMAR GUE SEKARANG !!!”
Putra mendekatkan wajahnya ke wajah ku. Jujur aku merinding ketika
wajahnya berada di depan wajah ku dengan jarak begitu dekatnya. Aku bisa
melihat lekukan wajahnya yang begitu sempurna tanpa cacat sedikit pun. Aku
hanya menelan saliva ku dalam – dalam. Apa yang akan di lakukan nya? Pikirku.
“aku mau kamu maafin aku, oke?” ujarnya begitu lembut membuat jantungku
ingin lepas dari organ tubuhku ini.
Aku hanya bisa mengangguk lemas tak berani berkata apa – apa lagi
“oke good girl,”
“balikin PSP gue !”
“gak akan sebelum lo makan dulu !”
Di saat yang bersamaan Bi Inem datang membawakan aku makan untuk ku
“eh ada mas Putra, ini loh mas non fasha belum makan dari pagi,” ujar Bi
Inem
Aku hanya memalingkan muka ku kearah jendela melihat gumpalan awan di
temani burung yang terbang bebas
“yaudah taro di situ aja bi, biar nanti saya suapin dia”
Bi Inem hanya mengangguk lalu izin untuk keluar dari kamar ku. Aku benar
– benar tidak berselera makan, di tambah lagi Putra ada disini. What the hell !
“ayo makan,” ujar nya
“elo suapin gue? Mau jadi apa gue, tadi aja lo gitu sama gue sekarang
sok sokan mau nyuapin gue, cish” sindir ku tajam
Putra hanya menghela nafas nya dalam – dalam, ia tahu kalau aku masih
kesal kepadanya. Akhirnya ia menjauhi ku dan duduk di sofa kamar ku sambil
memainkan ponselnya. Sekali aku melirik Putra yang serius memainkan ponselnya.
Lagi ngapain sih? Serius banget sih.
Aku pun melihat makanan begitu menggoda ku yang sudah kelaparan ini. Aku
pun mencoba mengambil piring yang ada di meja ku namun aku tak bisa
menggapainya
“Putra..”
Putra hanya melirik ku sebentar, sementara aku yang sudah kelaparan
ingin segera makan
“gue mau makan,” ujar ku sambil menunduk menahan malu
“hahahaha”
“kok ketawa sih?” sambil melihatnya tertawa
“yaudah makan tinggal makan kan?”
Aku hanya mendengus kesal mendengar statement nya barusan. Putra pun
mengambilkan ku makanan ku yang sudah begitu menggoda ku
“nih,”
Aku segera memakan makanan yang di bawa Bi Inem tadi. Setelah selesai
aku segera minum obat yang di berikan oleh papa tadi. Ketika aku melihat Putra,
ia sudah tertidur pulas di sofa. Sepertinya ia kelelahan. Pikirku.
ΔΔΔΔ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar