Senin, 30 Desember 2013

4 years ago chapter 3

Bulan kini memancarkan sinarnya dengan terang ditemani bintang yang tak kalah menyinari ku di balkon kamar. Beberapa hari setelah itu kaki ku sudah membaik, namun papa belum boleh mengizinkanku untuk berjalan terlalu jauh. Sambil mendengarkan lagu dari ipod ku aku melihat lapangan basket depan rumah ku, ingin rasanya aku bermain basket namun papa belum mengizinkan. Jangankan untuk berlari, untuk berjalan aku masih memerlukan bantuan tongkat.
Sampai sekarang aku menjawab pernyataan cinta Putra. Aku tidak mau salah langkah kali ini, namun perasaan mengatakan aku ingin sekali memilikinya. Entah mengapa seharian ini aku tidak melihat Putra, biasanya ia sudah ada di balkon kamarnya ketika keluar dari dalam kamarku.
Terlihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Putra. Ketika pintu mobil di buka terlihat Putra keluar bersama seorang cowok yang lebih tua dari nya mungkin seusia dengan ku. Saat Putra melihat ke atas, ia hanya tersenyum kepadaku begitu juga dengan aku. Lalu ia segera masuk ke dalam rumah di ikuti cowok itu sambil membawa kopernya.
“sha,”
aku yang merasa di panggil langsung menengok ke arah balkon kamarku.
“ya?”
“ngapain udah malem masih disini?” Tanya Putra
 “gak apa – apa kok, tadi itu siapa?”
“kakak gue baru balik dari jogja”
“kakak?”
“iya kakak gue”
Mengalirlah cerita darinya aku hanya mendengarkan sambil memperhatikan wajahnya sambil sekali aku memperhatikan ekspresinya saat menceritakan kakak terdekatnya itu. Seketika muncul di fikiranku ‘cinta, suka, dan sayang itu beda tipis’. Apa iya aku hanya menyukainya? Bukan mencintainya? Lalu aku segera menepiskan pernyataan tersebut dari benakku.
Tiba – tiba seorang cowok keluar dari kamar Putra
“ah lo gua cariin juga” ujar cowok itu
“kenapa?”
Cowok itu melihatku dengan tatapan yang sulit terbaca oleh ku. Aku hanya tersenyum saat dia melihat ku seperti itu.
“siapa?”
“ini tetangga baru, kakak kelas gue, calon pacar gue”
PLAKKKKK
“Cewek mulu lo yang di pikirin”
“lah emang bener, Tanya aja orangnya”
“emang iya?” Tanya cowok itu kepada ku
Aku bingung harus menjawab dan aku juga bingung dengan perasaan ku kepada Putra. Dan aku hanya memberikan seulas senyum kepada cowok itu
“oh kenalin ini kakak aku yang tadi aku certain, namanya Anggra”
“hai Anggra,” ujar Anggra
“fasha” balasku sambil menjabat tangannya
“gak usah lama – lama juga kali” kata Putra dengan sewotnya
“gak usah pake sewot juga kali mas” jawabku
Anggra hanya tertawa melihat tingkahku dengan Putra. Aku mendengar Tante Ira memanggil Putra dari dalam rumahnya.
“sebentar yah nyokap gue manggil”
Aku hanya menganggukkan kepala ku saja. Putra pun meninggalkan aku berdua dengan Anggra. Seketika keheningan menyeruak diantara kita berdua.
“lo…”
“lo…”
Kata ku bersamaan dengan Putra, dan aku hanya tertawa kecil begitu juga dengan Anggra.
“lo duluan aja,” kata ku
“gak lo dulu aja,” ujar Putra
“lo aja,”
“well, kok bisa Putra suka sama lo?”
Aku hanya menggendikan bahuku saja sambil tersenyum
“lo kakak kelasnya Putra? Kelas berapa?” tanyanya
“12 kalo lo?”
“sama kaya gue,Putra kaya anak kecil yah?”
“kaya anak kecil sih enggak tapi ya gimana ya?”
“hahaha ya ya tau banget gue dia kaya apa”
Akhirnya aku pun dan Anggra mulai akrab, ketika ia tersenyum tipis kepadaku kenapa senyumnya begitu asing bagiku? Aku pernah melihat senyum tipis tapi siapa ya? Hanya itu yang di benakku.

Entahlah aku bingung dengan jawaban yang akan ku berikan kepada Putra nanti. Aku tidak mau salah langkah untuk kesekian kalinya, aku pun memutuskan agar tidak menjawab pertanyaan Putra dan membiarkan mengalir begitu saja. Mungkin suatu saat akan ada jawabnya.
Hari – hari ku lewati bersama Putra dengan canda dan tawa diantara kita tanpa ada yang tau hubungan diatara kami seperti apa. Hubungan tanpa status? Aku rasa iya, aku juga menjalin hubungan ini dengan nyaman. 5 bulan. Bukan waktu yang sebentar untuk menjalin sebuah hubungan tanpa status seperti yang ku alami saat ini. Entahlah aku tidak memikirkan sejauh ini.
∆∆∆∆∆∆
Aku tidak dapat membayangkan jika ini akan berakhir seperti sekarang ini. Saat aku mencari akun Putra di salah satu jaringan sosial, betapa terkejutnya aku ketika membaca salah satu update nya di jaringan sosial tersebut. Dan aku kaget ketika melihat salah satu update dari cewek tersebut. Awalnya aku hanya menganggap biasa saja namun saat aku mengarahkan touch pad laptop ku lebih jauh lagi, dan aku menemukan sesuatu yang mengejutkan ku. Ya cewek itu adalah pacarnya Putra. Labil? Sepertinya begitu. Aku hanya memakluminya saja.
Entahlah aku tak mengerti apa yang ku rasa saat ini. Sakit? Tentu saja. Namun dengan sadar ku, aku tak ingin menangis lagi hanya karena cinta. Tangis ini ku pendam sendiri jauh di dalam lubuk hati ini. Aku hanya tersenyum tipis membaca semua upadate Putra mengenai cewek tersebut. oke ini memang semua salah ku dari awal. Aku mundur dari permainan ini. Fix keputusanku.
Matahari telah datang di pagi ini mencoba menembus melalui jendela kamar ku ini. Di temani oleh kicauan burung, aku mencoba menyadarkan diri ini yang masih di ambang batas nyawa.
Seketika aku teringat kembali kejadian tadi malam. Itu mimpi ya? Batinku. Seolah itu semua mimpi buruk yang ku alami saat aku tidur. Namun yang harus aku terima adalah kalau itu kenyataan. Oke anggap ini semua tidak pernah terjadi. Aku segera bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.
6.15 wib
Aku sudah siap berangkat ke sekolah setelah sarapan dan papa menyuruh bibi untuk membawakan aku bekal untuk makan siang nanti. Aku segera menyambar kunci mobil yang tergelatak manis di meja makan beserta iphone dan headphone nya juga.
“pa, ma aku jalan. Assalamualaikum” kata sambil berlari keluar rumah.
“iya hati – hati. Bawa mobilnya jangan ngebut, walaikumsalam” ujar papa terdengar samar oleh ku dari luar rumah
“iya hati – hati” jawab mama
Ketika aku keluar rumah Putra juga sedang bersama motornya. Dia melihatku, namun aku pura – pura tidak melihatnya. Aku segera menginjak gas mobil ku dan jalan begitu saja melewati Putra yang masih terpaku melihat kepergian ku yang ku lihat dari kaca spion mobil ku.
Sakit memang aku rasakan kini. Namun aku harus mulai terbiasa hari ini dan seterusnya. Aku ingin segera melupakannya cepat.
Tak butuh waktu lama untuk segera sampai di sekolah. Ketika aku keluar dari mobil ku, di saat yang bersamaan Putra datang. Dengan cepat aku segera melangkahkan kaki ku masuk ke dalam kelas. Sebisa mungkin aku menghindar darinya.
“kenapa lo ngos – ngosan gitu kaya abis di kejar setan aja” ujar vira yang melihatku masuk kelas di penuhi keringat di wajah ku sambil terengah – engah.
Aku segera mengambil minum ku dari dalam tas, dan segera meminumnya karena haus.
“mau tau aja lo,” balas ku jutek
Vira hanya melengos saja mendengar pernyataan ku tadi.
Kriiiingggg kringggggg kriiiingggggg
Bel memulai aktivitas belajar di sekolah pagi ini. Hari ini full sekali dan tidak ada jam kosong sama sekali. Aku hanya bisa menatap nanar melihat soal – soal yang di berikan oleh setiap guru yang masuk kelas hari ini.
“sebanyak ini yah?” kata ku
“loakin dapet berapa yak?” Tanya vira yang sama seperti ku miris melihat tumpukan soal yang harus di kerjakan
BUUUUKKKK
Sebuah buku kecil namun tebal melayang di kepala vira
“duh sakit !” omelnya sambil mengelus kepalanya
“elu lagian ngomong seenak jidat aja,” ujar ku sambil merapikan soal – soal tersebut
Kringggg kriiinggg kriiiiingggggg
Bel pulang telah menggema seluruh sekolah, dan para siswa telah meninggalkan kelasnya satu per satu. Aku tidak langsung pulang dan menunggu vira yang sedang mencatat pelajaran yang tadi di sampaikan oleh guru. Sedangkan aku sibuk dengan game di iphone ku.
“udah yuk balik” ajak vira
Aku hanya mengagguk lalu mengikuti vira dari belakang menuju parkiran.
*vira house*
“thank’s ya, sering – sering anter gue.” kata vira kepada ku
“haha sama – sama. Rese lo kira gue supir lo? berani bayar gue berapa lo hah?” balas ku
Vira hanya tertawa mendengar pernyataan ku. Aku pun pamit dan segera pulang karena hari juga sudah sore. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumahku. Karena jarak rumahku dengan rumah vira tidak terlalu jauh.
Malam harinya aku harus berhadapan dengan tumpukan kertas yang berisi soal yang membuatku ingin muntah. Beberapa kali menggunakan rumus kimia yang sama namun tidak ada jawaban yang aku temukan sama sekali. Entahlah ini aku salah menghitung atau salah rumusnya, aku tidak mengerti.
Aku pun memutuskan untuk merasakan sejuknya udara malam ini di balkon kamarku. Ketika aku membuka pintu balkon kamarku Putra sudah berada lama disana. Aku tidak memperdulikannya dan menganggapnya tidak ada, sambil mendengarkan lagu di playlist iphone ku, ku hirup udara malam ini dalam – dalam lalu ku hembuskan secara perlahan
“sha kamu….”
Aku langsung masuk ke dalam kamarku kembali. Sungguh aku tak ingin melanjutkan ini semua dan aku sudah mengakhiri permainan ini sendiri. Aku tak memberi kesempatan Putra untuk mengeluarkan melodi kata – katanya untukku. Dan aku segera menutup tirai dan memadamkan lampu kamarku. Mungkin saat ini Putra hanya bisa menatap nanar.

Sesungguhnya aku benar – benar tidak memejamkan mataku. Sebisa mungkin aku menghindar darinya. Pernahkah kamu merasakan sakitnya memendam tangis ini di lubuk hatimu? Sakit bukan? Bahkan jika di bandingkan luka akibat goresan pisau pun tak akan ada artinya untukmu. Ya ini yang ku rasa saat ini. Mata ini tidak menjatuhkan bulir – bulir airnya, namun dari hatilah yang mengeluarkan itu semua. Jangan Tanya aku apakah aku merindukan Putra? Tentu saja. Rasa rindu telah pupus terhapus oleh sakitnya yang Putra berikan kepadaku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar