Sesungguhnya aku benar – benar tidak memejamkan mataku. Sebisa mungkin
aku menghindar darinya. Pernahkah kamu merasakan sakitnya memendam tangis ini
di lubuk hatimu? Sakit bukan? Bahkan jika di bandingkan luka akibat goresan
pisau pun tak akan ada artinya untukmu. Ya ini yang ku rasa saat ini. Mata ini
tidak menjatuhkan bulir – bulir airnya, namun dari hatilah yang mengeluarkan
itu semua. Jangan Tanya aku apakah aku merindukan Putra? Tentu saja. Namun rasa
rindu telah pupus terhapus oleh sakitnya yang Putra berikan kepadaku.
Pagi ini tidak seperti biasanya aku bangun pagi sekali. Jam baru
menunjukan pukul 6.00 pagi namun aku sudah rapi dengan seragam sekolahku dan
siap pergi kesekolah. Entah apa yang terjadi denganku kali ini aku pun tak
mengerti.
“pagi pa”
“tumben udah rapi, biasanya jam segini baru bangun”
Aku hanya menyeringai mendengar pernyataan papa tadi. Sarapan pagi ini
hanya ada aku dan papa. Mama sedang pergi Jogja melihat beberapa butik yang ada
di sana. Sepi? Tentu saja.
“kamu mau bawa bekal atau makan disini?” Tanya papa sambil lihat
headline Koran pagi ini
“bawa aja deh pa,”
Papa lalu menyuruh Bi Inem untuk menyiapkan bekal untuk aku bawa pagi
ini. Setelah siap aku segera pamit untuk pergi ke sekolah
“aku berangkat dulu ya pa,”ujar ku sambil cipika cipiki
Tiba – tiba ada yang mengetuk jendela mobilku
“kenapa ggra?” tanyaku kepada Anggra
“eh itu… eee gue boleh nebeng gak sama lo? Soalnya mobil gue masuk
bengkel” sambil menggaruk tengkuknya
“boleh, yaudah masuk aja”
Di lain tempat ketika Putra keluar dari rumahnya, ia melihat Anggra
masuk ke dalam mobil fasha.
“lo sekolah dimana emangnya gra?”
“di nusa bangsa,”
“loh sekolah kita deket dong ya?”
“iya, emmmm sha boleh Tanya gak?”
“apa?”
“lo udah terima Putra?”
JLEBBBBBBBBBBB
Seketika senyumku pudar mendengar pernyataan Anggra kepadaku. Aku harus
jawab apa kali ini?
“enggak tau gue juga bingung gra. Kenapa lo gak Tanya sama ade lo?”
“iya ya hehehehe”
Aku sudah sampai di sekolahku. Melangkahkan kaki – kaki ini menuju
kelasku di lantai 3. Namun saat ku melangkahkan kaki di anak tangga lantai 2
tiba – tiba ada yang menarik tanganku dari belakang. Putra.
Aku hanya menoleh sedikit tak ingin menatap wajahnya yang begitu aku
rindukan.
“bisa ikut gue ke taman belakang?” Tanya Putra
“sebentar lagi bel” elak ku
“please.. hari ini guru ada rapat”
Aku hanya diam lalu Putra menarik pelan tanganku mengikutinya berjalan
ke taman belakang. Saat ini perasaanku biasa saja dan memang sudah tidak
memiliki rasa sepertinya. Aku tidak memperdulikan beberapa siswa melihatku
dengan tatapan yang sulit diartikan. Entahlah. Aku sudah tidak memperdulikannya
kali ini. Dan memang benar – benar tidak peduli.
Semilir angin menghantam wajahku sejuk memang. Namun sejuknya wajah ini
tidak berarti apa – apa untukku terlebih lagi hatiku. Tak ada yang membuka pembicaraan
diantara kita berdua. Kita sibuk dengan fikiran masing – masing
“kalo gak mau ada yang di bicariin, gue balik” ujar ku sambil beranjak
meninggalkan Putra
“tunggu..”
Tanganku lagi – lagi tahan olehnya. Aku hanya diam tak menoleh
sedikitpun. Dengan sekali hentak Putra telah berhasil memutar tubuhku 180
derajat. Hanya ada tatapan yang tajam dariku dan di balas dengan tatapan yang
meneduhkan hati ini. Tatapan yang dulu aku rindukan. Dulu.
Tiba – tiba Putra memelukku begitu eratnya, aku tidak membalas
pelukannya sama sekali. Aku hanya membiarkannya dia memelukku, ingin rasanya
aku membalas pelukannya namun otak ini tak mampu bekerja dengan sempurna.
“lepas”
Namun Putra semakin erat memelukku, semakin erat pelukkan ini semakin
sakit hati ini mengingat kenyataan jika aku sudah mundur dari ini semua.
“lepasin gue”
Putra tidak menggubris ucapan ku
“please jangan berubah,aku sayang kamu”
Begitu pelan sangat menusuk di ulu hati ini. Bisikannya mampu membawa ke
dunia imajinatif ku sesaat.
PLAKKKKKKKKKK
Tanganku melayang tepat di wajahnya. Putra hanya bisa diam menerima
tamparanku. Kini wajahnya telah memerah akibat bekas tamparanku. Aku bisa
melihatnya meringis kesakitan. Mungkin aku keterlaluan tapi biarlah.
“gue berubah karena lo.” Ujar ku datar
Menangis? Rasanya tidak mungkin aku menangis di hadapannya. Karena aku
tidak ingin dia menganggap lemah olehnya. Rasanya aku ingin segera pergi dari
tempat ini. Namun kaki ini terlalu berat untuk diajak bergerak.
“gue bisa jelasin ini semua” ujarnya
“udah puas kan buat gue sakit?” tanyaku
“maafin gue. ini salah gue harusnya dulu gue gak kenal sama lo,” kataku
lagi sambil terkekeh pelan
“enggak ini salah gue. Gue yang udah lakuin kesalahan ini”
Tanpa seizin ku Putra memelukku lagi. Aku pun mencoba sebisa mungkin
untuk melepasnya namun aku tak bisa. Sampai akhirnya aku hanya pasrah dalam
keadaan ini.
“lepasin gue, lupain gue sekarang. Gue bukan siapa – siapa lo.” Pelan
namun sangat menusuk bagi siapa pun yang mendengarnya.
Akhirnya Putra meregangkan sedikit demi sedikit tangannya dari tubuhku.
Perlahan tapi pasti kini aku mulai bisa bernafas kembali. Raut wajah Putra kini
sungguh tak terbacakan entahlah aku juga tak mengerti.
“oke kalo itu mau kamu dan itu bisa buat kamu bahagia” ujarnya lalu
pergi meninggalkanku sendiri
Pernyataan ini lebih sakit dari yang aku bayangkan. Sampai disini kah
kamu mempertahankan aku? Sampai disini kah kamu memperjuangkan aku? Suara petir
mulai bergemuruh seiring hujan deras yang datang bersama air mata ini. Ya. Aku
menangis kali di temani hujan yang begitu derasnya. Sungguh aku sudah tidak
tahan dengan semua ini biarkan kini aku menangis sendiri disini tanpa mu.
Seketika aku tidak merasakan hujan membasahi tubuh ini. Ketika aku
melihat keatas ada payung berwarna pelangi. Sambil sesenggukan aku melihat
kebelakang ku dan ternyata Anggra. Ya Anggra.
“menangis lah sepuas hati mu, keluarkan semua yang ada di hati mu”
ujarnya sambil memelukku.
Akhirnya tangisan ku semakin pecah di pelukan Anggra. Biarlah aku
meluapkan semua sakit ini, biarlah aku merasakan sandaran tempat untuk ku
menangis adalah Anggra bukan Putra.
Kini aku sudah berada di dalam mobilku. Dengan bajuku yang basah akibat
kehujanan tadi kondisi tidak memungkinkan aku untuk ada di belakang roda
kemudi. Sambil mencoba menghangatkanku aku membuka ponsel ku di laci dashboard
ku. Beberapa kali vira mengirim pesan untukku bahkan menelfonku.
“nih pake jaket punya gue nanti lo sakit lagi,” kata Anggra sambil
memakaikanku jaket
“ehhhh .. makasih” kataku yang kaget atas perlakuan Anggra
Kini aku bisa melihat dengan jelas wajah Anggra di hadapan ku. Wajahku
begitu dekat dengannya, Anggra mencoba mendekati ku dan aku perlahan mundur
mundur mundur dan SKAK ! aku terjebak dalam posisi yang tidak menguntungkan !
“Hachiiiiiii”
Bersin ini menyelamatkan ku. Seketika Anggra dan aku sadar. Anggra hanya
menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menghilangkan kesaltingannya. Sementara
aku yang sudah deg – degkan tidak karuan hanya bisa memainkan iphone ku kembali
walau sebenarnya aku tidak focus.
“ehh itu anuuu sorry ya..” kata Anggra sambil memandangku
“iya,” ujarku sambil menundukan wajahku
Please jangan blushing please banget yah. Batinku
“mau langsung pulang atau gimana?” Tanya Anggra
“terserah lo, gue ikut aja” kata ku
Anggra mengarahkan roda kemudi keluar sekolah menuju suatu tempat.
Entahlah aku tidak tau yang pasti sekarang aku lelah lalu memutuskan untuk
tidur sebentar di mobil
“lo cantik sha kalo lagi tidur,” gumam Anggra sambil memandangku
Walau masih setengah sadar aku dapat mendengar kalimat yang diucapkan Anggra
kepadaku. Dan aku dapat merasakan tangan lembut Anggra membelai pipi ku ini.
Dan akhirnya aku tertidur pulas.
“sha bangun udah sampe,” Anggra mencoba membangunkan ku
“sha ayo bangun dulu,” kali ini sambil mengelus puncak kepalaku
“hoammmmmm…..”
“ini dimana?” tanyaku yang masih mencoba menyadarkan diriku
“makan dulu yuk kamu kan belum makan dari siang”
Aku hanya mengangguk lemas menuruti permintaan Anggra. Kini Anggra sudah
memegang dua bungkus kantung plastic yang berisikan makanan. Entah kapan ia
membeli itu aku tidak terlalu memperdulikannya.
“nih buat lo,” ucapnya sambil member satu box berisi makanan
Aku hanya memperhatikan box tersebut yang masih ada di tangannya
“kenapa masih diliatin ini ambil buat lo, tenang gak gue racunin kok”
sambil tersenyum
“makasih, hehe”
“iya sama – sama”
Selagi Anggra menghabiskan makanannya aku hanya bisa memandang keluar jendela melihat
beberapa orang bermain layangan di hamparan padang rumput yang luas itu. Ingin
rasanya menjadi layang – layang itu bisa terbang melihat orang lain tertawa
bahagia tanpa ada luka yang tergores di hatinya.
“lho kok belum di makan? Malah bengong?” ujarnya sambil membuyarkan
lamunan ku
“lo bisa main layangan?” tanyaku
Anggra menatapku dengan tatapan penuh Tanya
“bisa kenapa emangnya?”
“gue mau main layangan boleh yah?” ujarku sambil
menunjukan puppy eye ku
“emmm oke lah, tapi lo harus makan dulu” kata Anggra sambil mengambil
boxku
“sini gue suapin,”
Aku hanya mengangguk menuruti perintah Anggra. Tidak perlu waktu lama
untuk menghabiskan makananku. Kini aku sudah mengganti pakaian ku yang basah
dan menggantinya dengan yang kering aku selalu membawa baju cadangan yang aku
letakan di bagasi mobilku.
Kini aku mulai mencoba menerbangkan layangan dan memainkannya seperti
anak kecil yang ku bawa lari kesana sini. Sedangkan Anggra hanya tersenyum
sambil mengambil beberapa object di sana. Sekali mengarahkan lensa kameranya
kearahku.
“lo suka fotografi yah?”
tanyaku sambil mencoba mengatur nafas
“iya, emang kenapa?”
jawabnya sambil mengambil memotret lalu memandangku
“mmm... enggak cuman tanya
aja gue heheheh”
“dasar,” sambil mengelus
puncak kepalaku
Aku pun membaringkan
tubuhku diatas hamparan rumput hijau sambul memandang langit biru yang cerah.
Sekejap aku memejamkan mataku merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku.
Ketika aku membuka mata kembali aku melihat Anggra sudah tertidur pulas diatas
rumput. Aku mengambil kamera slr miliknya lalu melihat hasil fotonya.
“bagus juga fotonya,”
gumamku
“kok ada foto gue?”
“emang kenapa kalo ada
foto lo? Gak boleh?” tiba – tiba si pemilik kamera itu bersuara
“hah? Oh gapapa kok”
kagetku ketika Anggra melihat hasil fotonya
“yaudah gak usah salting
juga kali ya, muka lo lucu kalo lagi salting”
“ihhhhh Anggra apaan sih
lo rese ah”
“hahahahaha”
Anggra lantas mengambil
kameranya dari tanganku dan menarik tanganku tanpa seizinku
“eh mau ngapain?”
“ayo kita foto bareng buat
kenang – kenangan”
“emang lo mau kemana?”
Anggra hanya menggelengkan
kepalanya, lalu segera mengarahkan kameranya ke arah ku menggunakan tripot yang
sengaja ia bawa. Setelah mengatur timer ia segera berlari kearahku dan
merangkulkan tangannya di pundakku.
Ceklek
“good. Sekali lagi ya sha”
Aku hanya menganggukan
kepalaku menandakan setuju
ΔΔΔΔ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar