Senin, 30 Desember 2013

4 years ago chapter 4

Sesungguhnya aku benar – benar tidak memejamkan mataku. Sebisa mungkin aku menghindar darinya. Pernahkah kamu merasakan sakitnya memendam tangis ini di lubuk hatimu? Sakit bukan? Bahkan jika di bandingkan luka akibat goresan pisau pun tak akan ada artinya untukmu. Ya ini yang ku rasa saat ini. Mata ini tidak menjatuhkan bulir – bulir airnya, namun dari hatilah yang mengeluarkan itu semua. Jangan Tanya aku apakah aku merindukan Putra? Tentu saja. Namun rasa rindu telah pupus terhapus oleh sakitnya yang Putra berikan kepadaku.
Pagi ini tidak seperti biasanya aku bangun pagi sekali. Jam baru menunjukan pukul 6.00 pagi namun aku sudah rapi dengan seragam sekolahku dan siap pergi kesekolah. Entah apa yang terjadi denganku kali ini aku pun tak mengerti.
“pagi pa”
“tumben udah rapi, biasanya jam segini baru bangun”
Aku hanya menyeringai mendengar pernyataan papa tadi. Sarapan pagi ini hanya ada aku dan papa. Mama sedang pergi Jogja melihat beberapa butik yang ada di sana. Sepi? Tentu saja.
“kamu mau bawa bekal atau makan disini?” Tanya papa sambil lihat headline Koran pagi ini
“bawa aja deh pa,”
Papa lalu menyuruh Bi Inem untuk menyiapkan bekal untuk aku bawa pagi ini. Setelah siap aku segera pamit untuk pergi ke sekolah
“aku berangkat dulu ya pa,”ujar ku sambil cipika cipiki
Tiba – tiba ada yang mengetuk jendela mobilku
“kenapa ggra?” tanyaku kepada Anggra
“eh itu… eee gue boleh nebeng gak sama lo? Soalnya mobil gue masuk bengkel” sambil menggaruk tengkuknya
“boleh, yaudah masuk aja”
Di lain tempat ketika Putra keluar dari rumahnya, ia melihat Anggra masuk ke dalam mobil fasha.
“lo sekolah dimana emangnya gra?”
“di nusa bangsa,”
“loh sekolah kita deket dong ya?”
“iya, emmmm sha boleh Tanya gak?”
“apa?”
“lo udah terima Putra?”
JLEBBBBBBBBBBB
Seketika senyumku pudar mendengar pernyataan Anggra kepadaku. Aku harus jawab apa kali ini?
“enggak tau gue juga bingung gra. Kenapa lo gak Tanya sama ade lo?”
“iya ya hehehehe”
Aku sudah sampai di sekolahku. Melangkahkan kaki – kaki ini menuju kelasku di lantai 3. Namun saat ku melangkahkan kaki di anak tangga lantai 2 tiba – tiba ada yang menarik tanganku dari belakang. Putra.
Aku hanya menoleh sedikit tak ingin menatap wajahnya yang begitu aku rindukan.
“bisa ikut gue ke taman belakang?” Tanya Putra
“sebentar lagi bel” elak ku
“please.. hari ini guru ada rapat”
Aku hanya diam lalu Putra menarik pelan tanganku mengikutinya berjalan ke taman belakang. Saat ini perasaanku biasa saja dan memang sudah tidak memiliki rasa sepertinya. Aku tidak memperdulikan beberapa siswa melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan. Entahlah. Aku sudah tidak memperdulikannya kali ini. Dan memang benar – benar tidak peduli.
Semilir angin menghantam wajahku sejuk memang. Namun sejuknya wajah ini tidak berarti apa – apa untukku terlebih lagi hatiku. Tak ada yang membuka pembicaraan diantara kita berdua. Kita sibuk dengan fikiran masing – masing
“kalo gak mau ada yang di bicariin, gue balik” ujar ku sambil beranjak meninggalkan Putra
“tunggu..”
Tanganku lagi – lagi tahan olehnya. Aku hanya diam tak menoleh sedikitpun. Dengan sekali hentak Putra telah berhasil memutar tubuhku 180 derajat. Hanya ada tatapan yang tajam dariku dan di balas dengan tatapan yang meneduhkan hati ini. Tatapan yang dulu aku rindukan. Dulu.
Tiba – tiba Putra memelukku begitu eratnya, aku tidak membalas pelukannya sama sekali. Aku hanya membiarkannya dia memelukku, ingin rasanya aku membalas pelukannya namun otak ini tak mampu bekerja dengan sempurna.
“lepas”
Namun Putra semakin erat memelukku, semakin erat pelukkan ini semakin sakit hati ini mengingat kenyataan jika aku sudah mundur dari ini semua.
“lepasin gue”
Putra tidak menggubris ucapan ku
“please jangan berubah,aku sayang kamu”
Begitu pelan sangat menusuk di ulu hati ini. Bisikannya mampu membawa ke dunia imajinatif ku sesaat.
PLAKKKKKKKKKK
Tanganku melayang tepat di wajahnya. Putra hanya bisa diam menerima tamparanku. Kini wajahnya telah memerah akibat bekas tamparanku. Aku bisa melihatnya meringis kesakitan. Mungkin aku keterlaluan tapi biarlah.
“gue berubah karena lo.” Ujar ku datar
Menangis? Rasanya tidak mungkin aku menangis di hadapannya. Karena aku tidak ingin dia menganggap lemah olehnya. Rasanya aku ingin segera pergi dari tempat ini. Namun kaki ini terlalu berat untuk diajak bergerak.
“gue bisa jelasin ini semua” ujarnya
“udah puas kan buat gue sakit?” tanyaku
“maafin gue. ini salah gue harusnya dulu gue gak kenal sama lo,” kataku lagi sambil terkekeh pelan
“enggak ini salah gue. Gue yang udah lakuin kesalahan ini”
Tanpa seizin ku Putra memelukku lagi. Aku pun mencoba sebisa mungkin untuk melepasnya namun aku tak bisa. Sampai akhirnya aku hanya pasrah dalam keadaan ini.
“lepasin gue, lupain gue sekarang. Gue bukan siapa – siapa lo.” Pelan namun sangat menusuk bagi siapa pun yang mendengarnya.
Akhirnya Putra meregangkan sedikit demi sedikit tangannya dari tubuhku. Perlahan tapi pasti kini aku mulai bisa bernafas kembali. Raut wajah Putra kini sungguh tak terbacakan entahlah aku juga tak mengerti.
“oke kalo itu mau kamu dan itu bisa buat kamu bahagia” ujarnya lalu pergi meninggalkanku sendiri
Pernyataan ini lebih sakit dari yang aku bayangkan. Sampai disini kah kamu mempertahankan aku? Sampai disini kah kamu memperjuangkan aku? Suara petir mulai bergemuruh seiring hujan deras yang datang bersama air mata ini. Ya. Aku menangis kali di temani hujan yang begitu derasnya. Sungguh aku sudah tidak tahan dengan semua ini biarkan kini aku menangis sendiri disini tanpa mu.
Seketika aku tidak merasakan hujan membasahi tubuh ini. Ketika aku melihat keatas ada payung berwarna pelangi. Sambil sesenggukan aku melihat kebelakang ku dan ternyata Anggra. Ya Anggra.
“menangis lah sepuas hati mu, keluarkan semua yang ada di hati mu” ujarnya sambil memelukku.
Akhirnya tangisan ku semakin pecah di pelukan Anggra. Biarlah aku meluapkan semua sakit ini, biarlah aku merasakan sandaran tempat untuk ku menangis adalah Anggra bukan Putra.
Kini aku sudah berada di dalam mobilku. Dengan bajuku yang basah akibat kehujanan tadi kondisi tidak memungkinkan aku untuk ada di belakang roda kemudi. Sambil mencoba menghangatkanku aku membuka ponsel ku di laci dashboard ku. Beberapa kali vira mengirim pesan untukku bahkan menelfonku.
“nih pake jaket punya gue nanti lo sakit lagi,” kata Anggra sambil memakaikanku jaket
“ehhhh .. makasih” kataku yang kaget atas perlakuan Anggra
Kini aku bisa melihat dengan jelas wajah Anggra di hadapan ku. Wajahku begitu dekat dengannya, Anggra mencoba mendekati ku dan aku perlahan mundur mundur mundur dan SKAK ! aku terjebak dalam posisi yang tidak menguntungkan !
“Hachiiiiiii”
Bersin ini menyelamatkan ku. Seketika Anggra dan aku sadar. Anggra hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menghilangkan kesaltingannya. Sementara aku yang sudah deg – degkan tidak karuan hanya bisa memainkan iphone ku kembali walau sebenarnya aku tidak focus.
“ehh itu anuuu sorry ya..” kata Anggra sambil memandangku
“iya,” ujarku sambil menundukan wajahku
Please jangan blushing please banget yah. Batinku
“mau langsung pulang atau gimana?” Tanya Anggra
“terserah lo, gue ikut aja” kata ku
Anggra mengarahkan roda kemudi keluar sekolah menuju suatu tempat. Entahlah aku tidak tau yang pasti sekarang aku lelah lalu memutuskan untuk tidur sebentar di mobil
“lo cantik sha kalo lagi tidur,” gumam Anggra sambil memandangku
Walau masih setengah sadar aku dapat mendengar kalimat yang diucapkan Anggra kepadaku. Dan aku dapat merasakan tangan lembut Anggra membelai pipi ku ini. Dan akhirnya aku tertidur pulas.
“sha bangun udah sampe,” Anggra mencoba membangunkan ku
“sha ayo bangun dulu,” kali ini sambil mengelus puncak kepalaku
“hoammmmmm…..”
“ini dimana?” tanyaku yang masih mencoba menyadarkan diriku
“makan dulu yuk kamu kan belum makan dari siang”
Aku hanya mengangguk lemas menuruti permintaan Anggra. Kini Anggra sudah memegang dua bungkus kantung plastic yang berisikan makanan. Entah kapan ia membeli itu aku tidak terlalu memperdulikannya.
“nih buat lo,” ucapnya sambil member satu box berisi makanan
Aku hanya memperhatikan box tersebut yang masih ada di tangannya
“kenapa masih diliatin ini ambil buat lo, tenang gak gue racunin kok” sambil tersenyum
“makasih, hehe”
“iya sama – sama”
Selagi Anggra menghabiskan makanannya aku hanya bisa memandang keluar jendela melihat beberapa orang bermain layangan di hamparan padang rumput yang luas itu. Ingin rasanya menjadi layang – layang itu bisa terbang melihat orang lain tertawa bahagia tanpa ada luka yang tergores di hatinya.
“lho kok belum di makan? Malah bengong?” ujarnya sambil membuyarkan lamunan ku
“lo bisa main layangan?” tanyaku
Anggra menatapku dengan tatapan penuh Tanya
“bisa kenapa emangnya?”
“gue mau main layangan boleh yah?” ujarku sambil menunjukan puppy eye ku
“emmm oke lah, tapi lo harus makan dulu” kata Anggra sambil mengambil boxku
“sini gue suapin,”
Aku hanya mengangguk menuruti perintah Anggra. Tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan makananku. Kini aku sudah mengganti pakaian ku yang basah dan menggantinya dengan yang kering aku selalu membawa baju cadangan yang aku letakan di bagasi mobilku.
Kini aku mulai mencoba menerbangkan layangan dan memainkannya seperti anak kecil yang ku bawa lari kesana sini. Sedangkan Anggra hanya tersenyum sambil mengambil beberapa object di sana. Sekali mengarahkan lensa kameranya kearahku.
“lo suka fotografi yah?” tanyaku sambil mencoba mengatur nafas
“iya, emang kenapa?” jawabnya sambil mengambil memotret lalu memandangku
“mmm... enggak cuman tanya aja gue heheheh”
“dasar,” sambil mengelus puncak kepalaku
Aku pun membaringkan tubuhku diatas hamparan rumput hijau sambul memandang langit biru yang cerah. Sekejap aku memejamkan mataku merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku. Ketika aku membuka mata kembali aku melihat Anggra sudah tertidur pulas diatas rumput. Aku mengambil kamera slr miliknya lalu melihat hasil fotonya.
“bagus juga fotonya,” gumamku
“kok ada foto gue?”
“emang kenapa kalo ada foto lo? Gak boleh?” tiba – tiba si pemilik kamera itu bersuara
“hah? Oh gapapa kok” kagetku ketika Anggra melihat hasil fotonya
“yaudah gak usah salting juga kali ya, muka lo lucu kalo lagi salting”
“ihhhhh Anggra apaan sih lo rese ah”
“hahahahaha”
Anggra lantas mengambil kameranya dari tanganku dan menarik tanganku tanpa seizinku
“eh mau ngapain?”
“ayo kita foto bareng buat kenang – kenangan”
“emang lo mau kemana?”
Anggra hanya menggelengkan kepalanya, lalu segera mengarahkan kameranya ke arah ku menggunakan tripot yang sengaja ia bawa. Setelah mengatur timer ia segera berlari kearahku dan merangkulkan tangannya di pundakku.
Ceklek
“good. Sekali lagi ya sha”
Aku hanya menganggukan kepalaku menandakan setuju
ΔΔΔΔ


Tidak ada komentar:

Posting Komentar