Senin, 30 Desember 2013

4 years ago chapter 1

Hari ini memang cerah matahari menampakan sinarnya di atas permukaan bumi, namun entah hari ini Aku memang sedang tidak niat untuk pergi ke sekolah. Terlebih lagi setelah ujian untuk session yang pertama ini. Ku langkahkan kaki ini menuju kelasku di lantai tiga. Ah mengapa terasa berat kaki ini? Batinku. 
Tidak lama Aku duduk di bangku yang biasa, bel pun berbunyi
“emang sekarang classmeet?” Tanya salah seorang teman ku
“hah? Tau gitu gue gak masuk deh” ujarku
Tidak lama kemudian terdengar sebuah pengumuman dari pengeras suara yang berada di kelas memberitahukan untuk hari ini memang jadwal untuk melaksanakan classmeet.
Aku pun memutuskan untuk ke kelas Vira untuk mengajaknya ke kantin
“vir, kantin yuk!” ujar ku
Vira hanya mengangguk kepala, ketika Aku mengajaknya ke kantin. Seperti biasa Aku memang sering bercanda dengan Vira layaknya seorang sahabat.
“sha..” tiba – tiba Vira memanggil ku
“apa?” Tanya Aku yang lagi asik dengan makanan ku
“nengok deh” ujar Vira
“ck ngapain lagi? Males ah,” ujar ku ketika melihat seorang cowok yang sedang membeli makanan.
“heeemmm ya deh tau yang mau move on,” kata Vira
“serah lo deh,” gumam ku singkat
Aku pun melanjutkan makan ku kembali. Setelah selesai makan, Aku dan Vira pun berpencar. Aku ke ruang seni yang letaknya di depan lapangan futsal dan Vira ke kelas.
Sesampainya di ruang music Aku segera memainkan grand piano yang sudah menunggu ku untuk Aku tekan tuts – tuts nya.
“DUUUUUUUKKKK”
Sontak Aku yang sedang bermain piano segera keluar membuka pintu. Namun betapa terkejutnya ketika Aku membuka pintu sesosok cowok menggunakan kaos putih dan celana panjang sedang mengambil bola. Putra. Batin ku.
 Jujur entah karena perasaan ku atau memang kenyataanya, kali ini Putra terlihat cool kali ini. Ah sudah lah lupakan. Toh juga Aku dan dia sekarang hanya sebatas kakak dan adik kelas saja. Tidak lebih.
Ya memang sejak MOS beberapa bulan yang lalu Aku memang sudah tertarik padanya. Terlebih lagi ketika ldks 2 bulan yang lalu ketika ia sakit jujur Aku sangat mengkhawatirkannya. Dan kedekatan antara Aku dan Putra semakin menjadi setelah selesai ldks itu. Banyak yang bilang Aku mirip dengan Putra layaknya kakak dan adik. Namun Aku tidak pernah menanggapinya dengan serius, entah apakah dia menyadarinya atau tidak. Bahkan sahabatku Vira juga mengatakan hal yang sama ketika Aku dan Putra sedang bercanda bersama.
Namun suatu ketika entah apa yang terjadi pada dirinya, tiba – tiba ia sedikit menjauh dari ku. Dan Aku mendengar dari teman sekelas ku bahwa ia mempunyai pacar yang berbeda kelas. Jujur ketika mendengar ada kekecewaan sedikit, namun sebisa mungkin Aku tidak menampakannya.
Sejak itu lah Aku dan dia jadi jarang bercanda lagi, ngobrol bersama lagi. Entah mengapa feel ku mengatakan bahwa ia sebenarnya masih ingin bermain denganku, namun karena sang pacar yang “agak cemburuan” itu dia jadi menjauh dari ku. Dan karena itu pula sang pacar selalu menatap ku dengan tatapan sinis.
Aku pun segera menutup pintu ruang music ketika kami saling bertatapan sebentar. Ya tidak ada komunikasi untuk saat ini seperti biasanya. Aku pun kembali dengan dentingan piano yang ku mainkan. Aku merasa bebas ketika memainkan jari – jari ku diatas tuts – tuts piano itu. Merasa lelah Aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin untuk membeli beberapa cemilan.
Ketika Aku menuju kantin, kembali Aku bertemu dengan Putra sejenak Aku berhenti dan menatap mata kami saling bertemu. Mengapa tatapan kali ini sungguh beda? Ada apa dengan nya? Seperti ada yang ingin diungkapkan namun terasa kelu? Batin ku. Aku tak tau apakah dia merasakan yang Aku rasa atau tidak. Lagi – lagi feel ku berkata seperti ada yang di sembunyikan darinya. Tapi ya sudah lah Aku tak punya hak untuk mencampuri kehidupannya saat ini sampai seterusnya. Aku segera menyadarkan diri dari tatapan mata itu dan segera pergi ke kantin.
Ketika Aku keluar dari kantin Aku kembali bertemu dengannya. Ahhh mengapa harus dia lagi? Pikirku. Dia berjalan di belakang ku untuk ke sekian kali nya mengapa feel ku berkata dia ingin menyapa namun enggan. Aku mempercepat langkah kaki ku menuju ruang music. Ketika Aku sampai di ruang music, Aku segera duduk dan mencoba mengatur nafas ku yang terengah. Ah Aku selalu benci saat feel ku datang tiba – tiba tentangnya.
Bel pun berbunyi tiga kali menandakan saatnya untuk pulang. Aku pergi meninggalkan ruang music dan segera mengambil tas ku di kelas. Cukup sudah hari ini setelah apa yang ku alami tadi.

ΔΔΔΔ
Ujian session kedua menanti di depan mata. Otak ini sudah terlalu lelah untuk sekedar menghitung bahkan mengingat semua rumus yang di berikan oleh setiap guru bidang study. 3 hari berlalu dengan sangat menjenuhkan dan cukup untuk melelahkan untuk ujian kali ini.
“sha jalan yuk” ajak Vira sambil memasukan alat tulisnya
“kemana? Lagi ga mood banget nih,” ujarku sambil mencari kunci motorku
“yah yaudah deh,” jawab Vira
“yuk pulang” ajakku setelah menemukan kunci mobilku
Aku selalu pulang bareng dengan Vira. Entahlah mengapa tiba – tiba Aku memikirkan Putra. Ah apa yang Aku pikirkan sih? Mengapa tiba – tiba Aku memikirkannya yang jelas – jelas tidak akan menjadi milikku. Ya setidaknya untuk saat ini. Batinku.
Segera Aku menjatuhkan diriku diatas tempat tidur yang berwarna biru dengan motif doraemon disekitarnya. Aku pun memijat ringan pelipisku, sesaat kemudian mama memanggilku dari bawah untuk menyuruhku makan. Aku segera turun ke bawah untuk makan setelah mangganti baju dan mencuci mukaku. Di bawah mama sudah menugguku untuk makan bersama. Tidak ada pembicaraan antara Aku dan mama ketika makan, memang Aku sedang tidak mood. Setelah selesai makan Aku segera pergi ke kamarku.

ΔΔΔΔ

Kringggg kringgg kringgg
Aku pun mematikan jam weker ku yang seperti biasa Aku setting 05.30 pagi. Aku membuka jendela kamarku dan membuka pintu balkon. Ku hirup udara pagi sedalam – dalamnya entah mengapa hari ini Aku malas sekali pergi ke sekolah.
06.10 W.I.B
Dengan santai Aku masih sarapan di meja makan sambil memainkan BB-ku yang online twitter
Shanindya Arfi
Errrr males sekolah,ngapain sih masih masuk acara gak penting juga
Aku segera me-retweet tweet Arfi
Ardina fasha
Emang ada acara apaan fi nanti? RT @ArfiArfi : Errrr males sekolah,ngapain sih masih masuk acara gak penting juga
Tak lama kemudian Arfi membalas mention ku
Adinda Arfi
@fashaardina gak tau kaya ada promoted gitu, ada bintang tamu nya juga
Seketika Aku menaikkan alisku sebelah. Heh? Apa-apaan ini? Sekolah jadi tempat untuk promosi. Batinku. Aku segera memakai sepatu dan pergi ke sekolah setelah pamit dengan papa mama.
Aku melangkahkan kaki dengan malas menaiki tangga sekolah satu per satu. Aneh jam segini kok belom bel yah? Pikirku
“baru dateng lo?” Tanya suara itu
Aku segera mendongakkan kepala ku yang menempel diatas meja
“hah? Iya” jawab ku singkat yang tidak lain adalah Vira
“kok diizinin masuk?” Tanya Vira lagi
“mana gue tau, pintu gerbang aja masih di buka lebar gitu juga ya gue masuk.”
“eh emang bener nanti ada acara?” tanya ku kepada Vira
“iya tapi katanya buat kelas 10 sama sebelas gitu”
Heh? Apa – apaan ini? Ngapain juga gue masuk tadi. Pikirku
 “oh mulai jam berapa acaranya?”
“kaya sekarang udah mulai deh, tuh di aula udah heboh banget”
“ke taman belakang yuk berisik disini” ajakku kepada Vira
Vira hanya mengangguk sambil berjalan mengikutiku dari belakang.
Perlu sedikit perjuangan untuk memasuki taman belakang sekolah karena di halangi beberapa kayu entah kenapa sekolah menutup taman belakang ini.
Sesampai di sana Aku langsung memakai headphone sambil membaca novel yang ku bawa. Sedangkan Vira sibuk mengurus hp nya beberapa aplikasinya hilang sambil mengoceh tak jelas.
Satu jam kemudian…
Aku mulai merasa bosan disini dan Aku pun mulai menyanyi melantunkan lagu yang di putar melalui headphoneku.
“belom selesai juga tuh upgradenya?” tanya ku kepada Vira yang kini mulai bête juga
Vira hanya menggelengkan kepalanya dengan muka yang bête. Aku berjalan keliling taman ketika Aku ingin mencuci tangan dekat semak – semak tiba – tiba ada yang melemparku bola
“AAAAAAAAAAARGHHHH” teriakku panic
“hahahahahaha lebay gitu aja pake teriak,” ujar suara itu dari balik semak – semak.
“siapa juga yang lebay, orang kaget juga. Ngagetin aja lo,” gumamku pelan sambil mengatur detak jantungku agar normal kembali
Ketika Aku ke semak – semak siapa lagi kalau bukan Putra. Entah sejak kapan anak laki – laki ini sudah berada di sini. Tidak lama kemudian Vira berlari menghampiriku dengan muka panic
“hosh hosh hosh lo kenapa sha?” ujar Vira sambil terengah - engah
Aku hanya menggelengkan kepala sambil melirik Putra. Vira hanya mengangguk dengan devil smilenya.
“lah lo kok berdua disini? Lo kan osis?” Tanya Vira kepada Iqbal dan Putra
“lah kakak ngapain juga disini?” Tanya balik Iqbal
“males gue,” jawab Vira
“ya udah sama” ujar mereka berdua kompak
Aku pun duduk di bangku taman yang jarak tidak terlalu dekat dengan Putra dan melanjutkan kembali membaca novelku. ketika Aku sedang asik membaca tiba – tiba ada percikan rintikan air hujan. Ketika Aku menengok Putra dengan watadosnya pura – pura tidak melihatku yang sudah kesal akibat ulahnya itu.
“ck jangan iseng dong,” ujarku
“siapa juga yang iseng,” sambil tersenyum polos
Ahhhhh great ! senyum ini yang Aku rindukan telah lama. Pikirku
Aku pun melanjutkan kegiatan ku yang tertunda itu, tidak lama percikan air itu datang lagi dan lagi. Aku pun yang sudah tidak mood untuk membaca novel itu segera menutupnya. Aku dan Putra akhirnya bercanda bersama. Sedangkan Vira dan Iqbal asik berbincang. Entah Vira sengaja atau tidak sedikit menjauh dari Aku yang bercanda dengan Putra.
******


Tidak ada komentar:

Posting Komentar