Senin, 30 Desember 2013

4 years ago last chapter

Sesampainya disana aku sudah melihat Anggra yang sudah menunggu ku dari tadi. Aku segera menghampirinya
“udah lama ya gra?”
“eh kamu, duduk dulu, enggak kok baru juga sampe aku”
“oh tumben ngajakin lunch bareng, kamu dari mana emangnya?”
“abis jalan – jalan aja, kamu?”
“tadi abis dari....”
******
Tiba – tiba ucapan ku terputus ketika aku melihat Putra sedang makan bersama dengan cewek yang aku lihat di dunia maya itu. Anggra yang menyadari perubahan raut wajahku yang tiba – tiba tidak enak megikuti arah mataku dan Anggra menyadarinya.
“kita pindah yah?” tawar Anggra
“gak usah gra, biarin aja. Aku juga udah lupain dia kok”
“beneran? Yaudah kalo itu mau kamu”
“iya, udah tenang aja kok”
Makanan tiba dan aku terlibat perbincangan seru dan hangat yang diciptakan Anggra. Seketika aku kembali ceria dengan hiburan yang diberikan oleh Anggra, dan sesekali aku terhipnotis oleh senyum manisnya Anggra.
“graa..”
“apa sha?”
“nonton yuk”
“nonton? Yukkk katanya ada film bagus lho”
“beneran? Mau? Yaudah ayuuuukkkkk” ajakku yang sudah tidak sabaran
“iya sabar dong cantik, bayar dulu”
“woooo gombal”
“biarin”
Setelah membayar semua pesanan, aku dan Anggra segera keluar dari resto itu sambil merangkulku sekilas aku melihat Putra melirikku tapi aku pura – pura tidak melihatnya.
“graa aku mau yang itu” tunjukku film yang bergenre horor sesampainya di bioskop
“yang itu aja sha, yang itu serem lho” saran Anggra
Aku dan Anggra terlibat perdebatan kecil film mana yang harus di tonton. Dan akhirnya Anggra mengalah dan segera membeli tiket.

****
“kamu yang ngajakin kan nonton film itu? Kan aku udah bilang sha itu filmnya serem hahahaha” ujar Anggra keluar dari studio
“yaudah iya nggra iya”
“eh tapi gapapa sih aku mau kok kalo sepanjang film di meluk kamu terus hehehehe” dengan tampang watados nya
“yeeeee ngambil kesempatan dalam kesempitan dasar” sambil mendorong bahu nya pelan
Jam sudah menunjukan pukul pukul 21.00 malam aku dan Anggra segera pulang kembali ke rumah
Ketika aku membuka pintu, kulihat mama dan papa sedang duduk bersama di depannya berjejer lembaran kertas yang aku tidak mengerti apa.
“lagi ngapain ma, pa?” ujarku yang lantas duduk di samping papa
“ini lagi data perusahaan papa yang ada di belanda. Kita mengalami penurun omset sampai 50%” balas papa serius
“terus gimana jadinya?”
“berhubung kamu akan sekolah disana, jadi papa percayakan kamu untuk mengurusi perusahaan papa disana. Nanti disana kamu akan di dampingin oleh sekertaris papa, Om rudi”
“sedangkan papa akan mengurusi perusahaan kita yang disini, karena perusahaan kita disini sedang berkembang pesat disini”
“oh, yaudah kalo gitu. Aku ke kamar dulu”
Gue mau ke belanda, dan Anggra sama sekali  gak tau kalo gue mau kesana. Pikirku sambil menjajakan kaki di tangga satu persatu. Kepergianku ke belanda tinggal menghitung hari saja. Sebentar lagi aku akan meninggalkan indonesia dan akan menetap disana dalam waktu yang lama.
****
h-3 menuju keberangkatan
hari ini aku tidak ada rencana pergi kemana – mana. Terlebih lagi Anggra juga sedang sibuk mengurusi kuliahnya. Hari ini saja aku bangun pukul 11.30 karena semalam suntuk aku berskype ria dengan teman ku yang di belanda. Belum apa – apa aku sudah mendapat teman disana.
Aku yang masih mengantuk, enggan beranjak dari tempat tidur. Terlebih lagi keadaan diluar hujan walaupun tidak deras, namun cuaca yang dingin cocok untuk tidur kembali. Ketika aku menarik selimutku, aku mendengar ponsel ku berbunyi. Kulihat di layar bb ku tertera nama Anggra
“halo nggraaa...” ujar ku dengan nada yang malas
“.......”
“aku masih ngantuk nggra”
“.......”
Aku segera menekan tombol merah dan segera tidur kembali yang sebelumnya mengatur diam bb ku. Aku tidak peduli Anggra menelfon ku berapa kali. Toh aku juga tidak akan mengangkatnya.
15.00 wib
Aku mengerjapkan mataku mencoba mengatur nyawaku yang masih berada di alam sadarku. Aku melihat bb ku terlihat lampu led berwarna merah yang berkedip, dan aku segera meraihnya.
From : Anggra
Kalo kamu udah bangun telfon aku yah, ada yang mau aku omongin sama kamu penting.
Aku segera menekan tombol hijau dari bb ku, tidak perlu menunggu Anggra segera menangangkat telfon ku
“halo nggra, kenapa?”
“......”
“udah lah”
“.......”
“oh gitu yaudah aku siap siap dulu yah”
“......”
30 menit kemudian
Aku kini sudah berada di sebuah cafe bergaya minimalis. Hanya ada keheningan diantara aku dan Anggra. Tidak ada canda dan tawa seperti biasa, hanya ada suara percikan air dari pancuran air di dalam cafe ini.
Aku menghela nafas berat, tak ada percakapan sama sekali diantara aku dan Anggra. Aku hanya menatap kosong percikan air dari luar jendela yang hujan ciptakan.
“aku dapet beasiswa ke ausie” ujar Anggra datar
Aku pun  mengalihkan pandanganku dari jendela tersebut dan segera menatap Anggra dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Sementara Anggra hanya  menatapku dengan tatapan kosong.
“selamat yah” ujarku dengan senyum yang dipaksakan
“iya makasih, tapi sebelum aku berangkat ke ausie aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apa?”
“aku sayang kamu”
Aku merasa tertohok mendengar pernyataan yang Anggra lontarkan kepadaku. Entah apa yang aku rasakan saat ini, aku tidak tau. Aku senang, namun disisi lain aku merasakan kehilangan. Entahlah.
Aku hanya tersenyum mendengar pernyataan tersebut. tidak tau harus berkata apa. Seketika aku teringat akan kepergianku ke belanda yang tinggal menunggu hitungan jam saja.
“mmmm.. tapi kamu gak perlu jawab itu semua kok. Cukup kamu dan tuhan aja yang tahu tentang perasaan kamu ke aku”
“kamu yakin kamu gak mau tau?”
Anggra menggeleng keras
“yaudah kalo itu mau kamu” ujarku
Seketika keheningan kembali menyeruak antara aku dan Anggra. Sibuk dengan pikiran masing – masing. Mungkin Anggra memikirkan kepergiannya ke ausie, sementara aku memikirkan kepergian ku ke belanda yang sama sekali Anggra tak ketahui. God aku harus apa?
“mmm gimana kalo kita buat kesepakatan aja?” tiba – tiba Anggra berujar
“hah? Asal yang gak aneh – aneh aja sih. Kamu kan suka gitu kadang – kadang aneh”
“hehe enggak kok kali ini”
“kesepakatannya apa?” tanyaku kali ini
“4 tahun kemudian, kita janjian di tempat ini, di waktu yang sama, dan di hari yang sama. Deal?”
“4 tahun lagi? Mmm.. oke deh” ujarku
****
Aku hanya bisa memperhatikan keadaan jalan selama menuju bandara soekarno-hatta. Mungkin ini memang yang terbaik. Aku memang harus pergi. Maafkan aku nggra.
Tanpa terasa kini aku sudah sampai di bandara. Aku tidak tahu harus apalagi, jujur aku masih bingung akankah aku memberitahu Anggra atau tidak.
“hati – hati yah disana.” Ucap mama sambil memelukku
“iya ma makasih ya ma. Mama juga hati – hati disini, jangan kecapekan”
“papa, udah siapin keperluan kamu selama disana. Nanti kamu udah ada yang jemput kok disana.”
“iya makasih ya pa”
“yaudah aku langsung masuk ya ma,pa”
****
4 tahun kemudian
Aku duduk di sudut ruangan ini. Ya, disinilah aku dan Anggra membuat kesepakatan dulu. Ditemani secangkir green tea aku merenungi kejadian beberapa tahun yang lalu.
Mungkinkah Anggra mencariku setelah kepergianku ke belanda? Mungkinkah Anggra marah kepadaku? Jika ya aku sudah menerima semuanya. Memang ini semua salahku tidak memberitahu siapapun.
Sudah lupakah Anggra dengan janjinya 4 tahun yang lalu? Tidakah dia ingin tahu bagaimana perasaanku terhadapanya? seribu pertanyaan bercambuk di dalam otakku menghantuiku. Membuatku semakin tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Terlebih lagi sendiri, memang disini ramai namu aku merasa sendiri. sepi. Dan hening.
Aku lantas memasang headset dan melanjutkan membaca novel. tak ada kata – kata yang aku cerna dalam otakku. Aku hanya memikirkan Anggra. Dimana dia saat ini? Tak ada alur pun yang aku ikuti dalam novel tersebut. kini otakku di penuhi dengan bayangan Anggra.
Aku lantas, memasukan novelku ke dalam tas dan aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Ketika aku memutar badanku, terlihat jelas Anggra di depan mataku. Sekejap aku diam terpaku, melihat senyum itu. Senyum yang selalu aku rindukan selama 4 tahun belakangan ini.
“hai” sapanya
Aku masih saja diam terpaku, aku hanya mengerjapkan mataku berkali – kali. Ini kah Anggra?
“sha? Are you okay?” sambil melambaikan tangannya di hadapanku
Seketika aku tersadar “oh yeah i’m ok”
Aku duduk kembali, namun dengan situasi yang berbeda. Aku masih saja menatapnya. Tidakah dia marah kepadaku? Pikirku.
“kamu apa kabar?” tanyanya membuka pembicaraan
“aku baik kok. Kamu gimana?”
“baik juga kok,”
Hening. Canggung. Hanya dua kata yang dapat aku jelaskan. Entahlah. Terlalu banyak perasaan yang ingin aku ungkapkan kepadanya. Terlalu banyak kata – kata sehingga aku tak mampu menungkapkannya.
“ka..” ujarku bersamaan dengan Anggra
Anggra hanya menggaruk tengkuknya, sementara aku mengalihkan pandanganku ke jendela. Masih seperti yang dulu, jendela ini masih saja dibasahi oleh rintikan hujan. Ya inilah tidak berubah ketika perpisahan terakhir kalinya sebelum aku memutuskan untuk ke belanda.
“boleh aku tanya sesuatu sama kamu?” ujarnya
Lantas aku menatapnya dan hanya menganggukan kepalaku saja
“waktu pertemuan terakhir kita, bener kamu besoknya berangkat ke belanda?”
Aku merasa tertohok. Perasaan bersalahku selama 4 tahun ini terungkap saat ini. Aku hanya bisa diam tak mampu berkata apa – apa untuk saat ini. Jika aku bisa, ingin rasanya aku kembali 4 tahun yang lalu.
“kamu kenapa gak bilang sama aku? Toh juga aku gak akan marah sama kamu, tapi kenapa harus gini caranya?”
“maa..aaf” hanya itu yang mampu aku ungkapkan
Aku hanya menunduk sambil menahan air mataku, agar tidak jatuh. Aku menggigit bibir bawahku.
“kamu tau, aku itu nyari – nyari kamu tau gak. Rumah kamu juga kosong terus. Dan temen – temen kamu juga gak ada yang tau”
Aku biarkan Anggra mengeluarkan semuanya. Aku terima. Ini semua salahku, biarkan Anggra mengeluarkan rasa kesalnya terhadapku selama 4 tahun belakangan ini.
“ngilang gitu aja gak ada kabar, maksud kamu apa?”
Di balik suara yang lembut itu ada rasa kesal yang muncul. Dan aku bisa merasakan atmosfir di dalamnya. Ya. Ini semua memang salahku.
“aku tau, ini memang salahku. Kamu gapapa kok marah sama aku. Aku terima kok” ujarku dalam sekali nafas
Sedangkan Anggra hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diungkapkan. Mungkin dia tidak mengerti dengan jalan pikirku dulu.
“maafin aku. Ada alasan yang gak bisa aku ceritain sama kamu dulu. Iya aku emang jahat sama kamu. Aku udah sakitin kamu, kamu udah menderita selama ini. Maafin aku”
Aku lantas segera mengambil tasku dan meninggalkan Anggra begitu saja di dalam. Ya memang kesan tidak sopan, tapi aku bisa apa?
Aku segera menjalankan mobil ku. entah aku tidak tau kemana, hingga akhirnya aku menemukan sebuah taman yang tak berpenghuni. Aku segera keluar dan duduk di salah satu bangku yang tersedia di taman tersebut.
Air mata ku jatuh begitu saja. Aku menelungkupkan wajahku di tangan ku menahan isak tangisku sebisa mungkin. Bukan. Bukan pertemuan ini yang aku inginkan. Bukan isak tangis kesedihan yang aku mau. Bukan pertengkaran yang aku inginkan.
Yang aku inginkan adalah pertemuan yang bahagia diikuti canda tawa satu sama lain. Yang aku inginkan isak tangis kebahagiaan. Yang aku inginkan adalah satu KEBAHAGIAAN.



4 years ago chapter 6

“ma, tadi pihak penyelenggara beasiswa telfon aku”
Papa dan mama lantas memperhatikan aku. Diam menungguku untuk melanjutkan ucapanku yang tertunda. Ya seperti biasa, aku, papa, dan mama makan malam bersama.
“aku dapet beasiswa itu dan aku udah mutusin untuk ambil beasiswa itu”
“yaudah kalo itu mau kamu, papa juga gak bisa larang kamu pergi kan?”
“Kamu berangkat kapan emangnya?” tanya mama disela makan
“belum tau, mereka nunggu konfirmasi dari akunya dulu. Mungkin besok pagi aku akan kesana buat kabarin mereka, mungkin setelah itu mereka akan jelasin apa aja yang harus aku siapin buat kesana”
“selamat ya anak papa akhirnya bisa ke belanda juga. Papa bangga sama kamu”
“makasih papa. mmmm tapi ma,pa aku boleh minta sesuatu gak?”
“apa?” tanya mama
“tolong kepergian ku nanti jangan kasih tau siapa – siapa ya pa, ma. Papa sama mama sama keluarga kita yang tau. Apalagi tetangga sebelah”
“tante ira maksud kamu?”
“iya ma”
“yaudah kalo itu mau kamu”
Selesai makan aku langsung naik ke kamarku, aku segera mengambil teropong bintang hadiah pemberian dari omaku yang di bandung. Oma tau sejak kecil aku memang suka memandang langit hanya untuk melihat bintang dan segera ke balkon.
SREEEEKKKKK
Ketika aku membuka pintu balkon kamar, aku melihat Putra sedang duduk di kursi santai sambil memeluk gitar sementara Anggra hanya diam termenung sambil memandangi kamera slrnya. Aku hanya diam tanpa menegur mereka sama sekali. Aku lantas mendirikan tripotku lalu memasang teropongku itu. Tak lupa earphone yang berbentuk kepala doraemon sudah bertengger di kepalaku.
Malam ini bintangnya tidak begitu banyak, namun ada satu bintang yang menarik perhatianku. Ada satu bintang kecil yang berada di tengah – tengah bintang besar yang bersinar. Dua bintang yang bersinar itu saling memancarkan sinarnya satu sama lain. Sedangkan bintang kecil yang di tengah tidak terlalu memancarkan sinarnya. Sepertinya bintang itu mengalami hal yang sama denganku.
Aku menghela nafasku mengingat kisah cintaku seperti ini. Mengapa tuhan menakdirkan seperti ini? Aku merasakan hp ku bergetar menandakan pesan masuk
From : Anggra
Bisa keluar sebentar gak? Ada yang mau gue bicarain sama lo
Kembali aku menghembuskan nafasku begitu berat ketika baca sms yang dikirim Anggra. Sekarang apa lagi ya tuhan? Batinku
To : Anggra
Oke tunggu di bawah ya
Send
Aku menuruni tangga satu per satu seperti biasa aku melihat papa dan nonton acara berita yang sedang banyak di bicarakan orang. Aku hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja.
“mau kemana sha?” tanya mama
“itu keluar sebentar sama Anggra, tuh Anggra nya udah didepan”
“oh yaudah hati – hati ya”
“iya ma”
Ketika aku membuka pintu Anggra sedang berdiri membelakangi pintu rumah ku sambi memasukan tangannya ke dalam saku celana pendeknya.
“nggra” panggil ku
Anggra lantas berbalik melihatku dan memberikan senyum manisnya kepadaku. Tiba – tiba aku merasakan desiran dari dalam tubuhku. Entahlah ketika aku melihat senyum itu ada perasaan aneh yang ku rasa.
“sha? Kok bengong?”
“hah? Engga kok hehehe mau kemana kita?” tanyaku sambil menghilangkan kegugupan ku
“ke taman aja deh”
Selama perjalan tak ada yang memulai pembicaraan sama sekali. Semua hening. Hanya jangkrik malam dan binatang kecil lainnya yang menjadi pengantarku selama perjalanan ini. Aku yang tidak tahan seperti ini akhirnya memutuskan membuka percakapan dengannya, ya walau terlihat canggung
“gimana kabar lo nggra?”
“hhh? Oh baik kok gue, lo sendiri gimana?”
“fine”
“lo lanjut dimana abis ini?”
“belum tau deh, kalo lo?” bohongku
“sama gue juga bingung”
Akhir aku sampai juga di taman, terlihat tidak begitu sepi malam ini. Banyak orang yang seumuran denganku asik bermain bersama teman atau mungkin pacarnya. Dan aku memutuskan untuk duduk di salah satu sudut taman.
Hening. Tak ada yang membuka pembicaraan sama sekali, hanya suara hembusan angin malam yang menusuk tulang. Aku yang merasa kedinginan hanya bisa menggosokan kedua tanganku sekali aku tiup kecil karena aku hanya menggunakan hot pants dan kaos pendek saja. Seketika aku merasa ada yang meletakan jaket di tubuhku. Ya Anggra iya melepas jaketnya dan memberikannya kepadaku.
“makasih” ujarku sambil tersenyum
“urwell”
Kembali aku terpaku akan senyumnya itu. Desiran itu hadir lagi, melonjak di dalam kalbu mengungkapkan ada yang aneh dari dalam tubuhku ini ketika aku melihat senyum itu.
“sha? Are you ok?”
“hah? Yeah i’m ok”
“ada perlu apa nggra sama gue?” tanya ku menghilangkan nervous ku
“gapapa lagi pengen jalan aja sama lo sha hehehe abis gue kangen sama lo” jujurnya sambil menggaruk tengkuknya
“ya ampun Anggraaaaaaaa gue kira ada apa”
“hehehehe kenapa? Gue ganggu lo ya?”
“enggak kok, santai aja lagi”
“mmm sha gue boleh tanya sesuatu gak?”
“tanya apa nggra?”
“gimana lo sama Putra?”
Aku merasa tertiban pohon yang tumbang ketika aku mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Anggra kepadaku. Aku pun terdiam, tidak tau harus menjawab apa.
“gue salah ya sha tanya itu sama lo? Enggg yaudah deh gak usah di bahas lagi hehehe” ujarnya salting
Aku hanya tersenyum miris tak menjawab pernyataan Anggra sama sekali. Hela nafasku hembuskan keluar dari organ mulutku
“nggra boleh minta satu permintaan gak sama lo?”
“hah? Boleh kok”
“gue mau lo temenin gue ya setiap malem selama seminggu kedepan ya”
“kok permintaan lo agak aneh si sha? Harus banget seminggu? Kenapa gak setiap malem aja?”
“hehehe gapapa kok nggra. Ye itu sih mau lo hahahaha” ujarku tertawa lepas
Suasana kini mulai mencair seperti dulu kala. Kini aku menemukan Anggra yang selalu membuatku nyaman dan tertawa kembali lagi ketika aku berada disampingnya juga senyum evilnya ketika ia menjaili ku. Gue bakal kangen banget sama lo nggra kalo gue udah di belanda nanti. Pikirku
“nggra foto – foto yuk”
Anggra hanya mengangguk lantas mengeluarkan ipod nya dari saku celana pendeknya. Ketika aku mengarahkan ipod ke depan, tiba – tiba Anggra merangkulku dan itu membuat detak jantungku tidak karuan. Aroma khas maskulin menyeruak begitu saja ketika ku berada di dekatnya.  God what happen to me?
Sebisa mungkin aku menyembunyikan rona merahku dan meminimalisir detak jantungku. Terlebih lagi aku dan Anggra duduk di tempat yang terang. Gue kenapa sih? Pikirku
Hingga sampai perjalanan pulang, rangkulan Anggra tak ia lepaskan. Dan entah mengapa aku merasa nyaman dan tenang. Ada hal berbeda disini, percakapan gue – elo kini berubah menjadi aku – kamu how believe it !
“yaudah aku masuk dulu ya gra” ujarku ketika sampai di depan pintu
“okeeee cantik” sambil mengusap kepalaku
“dasar gombal”
“biarin” sambil menjulurkan lidahnya
Ketika aku masuk ke rumah, papa dan mama masih serius nonton film action hingga aku lewat pun mereka tidak sadar sama sekali. Aku lantas mencuci muka dan mengganti pakaianku dengan piyama setiba di kamarku. Saat aku lihat bb, ada satu pesan masuk dari Anggra
From : Anggra
Sleep tight baby, see u next night {}
Aku hanya tersenyum membaca pesan yang dikirim oleh. Apakah ku jatuh cinta lagi? Gimana bisa? Aku segera memainkan jari ku diatas keyword bb ku
To : Anggra
You too~ don’t forget at 8 p.m J
Aku lantas mematikan lampu kamarku, dan kini hanya lampu tidur yang dipancarkan dari samping tempat tidurku yang berwarna – warni. To night so beautiful. Thank you Anggra i will miss you so much.
***
Pukul 10.00
Aku sudah berada di kantor kedutaan untuk mengurus semua berkas ku hari ini. Tak sampai beberapa lama berkas ku sudah selesai diurus, dan beruntung aku disana aku akan mendapatkan orang tua asuh selama aku kuliah disana. Jadi aku tidak perlu mencari hotel, terlebih lagi rumah orang tua asuh ku dekat dengan kampusku nanti.
Jam sudah menunjukan pukul 12.00 dua jam sudah aku menyelesaikan semua keperluanku menjelang kepergianku ke belanda. Aku masuk ke dalam mobil, dan segera meninggalkan kantor duta besar menuju mall untuk makan.
DDDRRRRTTTTT
From : Anggra
Wanna lunch together?
Aku segera membalas pesan dari Anggra
To : Anggra
With pleasure boy, where we will lunch?
Drrrrtttt
From : Anggra
I will wait u at mkg 1
Aku segera melajukan mobil ku ke tempat yang sudah di beritahu oleh Anggra, tidak butuh waktu lama karna memang jaraknya dekat dengan kantor dubes.
Sesampainya disana aku sudah melihat Anggra yang sudah menunggu ku dari tadi. Aku segera menghampirinya
“udah lama ya gra?”
“eh kamu, duduk dulu, enggak kok baru juga sampe aku”
“oh tumben ngajakin lunch bareng, kamu dari mana emangnya?”
“abis jalan – jalan aja, kamu?”
“tadi abis dari....”
******


4 years ago chapter 5

6 bulan kemudian
“yeeeeee gue lulussssss !” teriak vira
“iya wah selamat yah vir” peluk fasha
“iya congrats juga ya buat lo sha”
“thank you dear”
Hari itu pengumuman kelulusan SMA. Pengumuman sengaja di berikan di sekolah agar bisa merayakan kelulusan bersama – sama. Setelah 3 tahun lamanya, inilah hasil dari semua pembelajaran selama ini.
“gimana sama beasiswa lo sha?”
“belum ada kabar vir, lo gimana?”
“kayanya gue bakal lanjut disini aja deh”
“yaudah kalo itu pilihan lo”
Akhirnya aku dan vira memutuskan untuk pulang bersama, karena vira hari ini tidak membawa kendaraan pribadi. Selama perjalanan tidak seperti biasanya, hening tak ada yang membuka percakapan sama sekali. Semua sibuk dengan pikiran masing – masing. Tiba – tiba terlintas wajah Putra begitu saja. Ah, sudah berapa lama aku tak bertemu dengannya? Seminggu? Dua minggu? Sebulan? Bahkan lebih dari itu. Selama 6 bulan lamanya ia hampir tak bertemu dengannya. Walaupun satu sekolah hampir tidak pernah bertemu dengannya, bahkan dirumah sekalipun.
“apa kabar ya itu anak?” gumam fasha pelan sambil mengarahkan roda kemudi memasuki perumahan elit
“hah? Lo ngomong apaan sha barusan?”
“hah? Ngomong apa? Enggak kok”
“oh, eh yaudah gue turun disini aja deh sha, nanti gue minta jemput aja sama supir gue, kayanya pikiran lo lagi kacau deh”
“oh ok”
“thank’s ya, take care ya”
“sip”
Tidak seperti biasanya jalan ini macet, entah ada apa aku tidak terlalu memikirkannya. Terlintas kembali di pikiranku tentang Putra. Ketika ia melihat kearah lain, ia melihat sebuah mobil yang di dalamnya terdapat dua cowok yang ia kenal yang sedang bercanda gurau dengan orang disampingnya. Anggra dan Putra.
Aku pun memperhatikan kedua pria itu, untung kaca mobil milikku dipasang gelap jadi mereka tidak bisa melihatku. Tiba – tiba hp ku berdering ada panggilan masuk.
“halo ma kenapa?”
“.......”
“sekarang? Hmmmmm yaudah deh aku kesana”
Mobil jazz itu kini sudah terparkir di sebuah butik besar daerah jakarta pusat. Aku yg masih memakai seragam sekolahnya dengan menggunakan sun glasses coklat dan tas gembloknya memasuki butik itu.
“siang mba, ada yang bisa di bantu?”
“mama ada di ruangannya kan mba?” sambil melepas kaca matanya
“oh mba fasha ada kok, diatas”
“oke makasih mba”
Sesampainya diatas terlihat sang mama sedang berbincang dengan seorang wanita seumurnya. Entah ia tidak memperdulikan, dan ketika ia membuka pintu ruang kerja mamanya wanita itu menengok dan itu adalah tante ira.
“ketok dulu kenapa sih sha kalo masuk kebiasaan” oceh sang mama
“duh mama anak sendiri juga dateng ke kantornya malah diomelin, yang nyuruh aku kesini kan mama”
Sedangkan tante ira hanya tertawa mendengar percakapan antara aku dan mama.
“eh tante, kapan dateng tan?”
“belum lama kok, gimana hasilnya sha? Lulus?”
“lulus kok tan”
“kirain enggak” ujar mama
“yeee emang mama” balas ku sambil menjulurkan lidahku
“yeeee enak aja mama lulus dong”
“au ah laper mau cari makan”
Aku menuruni tangga sambil membalas pesan dari teman ku yang banyak mengucapkan selamat atas kelulusan ku, begitu juga sebaliknya denganku. Seketika aku mendengar suara yang familiar saat aku mengarahkan pandanganku lurus kedepan aku melihat dua orang laki – laki yang aku kenal, Anggra dan Putra.
Aku pun diam membeku dihadapan kedua remaja pria itu. Entah mengapa mereka melakukan hal yang sama, diam dihadapanku. Ah Putra. Sudah lama aku merindukan wajah itu. Sekian lama aku tak bertemu dengannya.
Aku hanya menyunggingkan senyum tipis ku saja kepada kakak beradik itu. Dan segera jalan, ketika aku tepat ada disisi samping Putra ia berbicara sesuatu.
“long time no see” bisiknya kepadaku
Aku berhenti melangkah, dan menengok ke sampingku ia hanya tersenyum kepadaku. Ah senyum itu yang kini aku rindukan, Pernyataan yang begitu pelan dan sepele namun sangat pas di hati ini. Aku kembali melangkahkan kaki ke tujuan semula. Cari makan.
30 menit kemudian
Kini aku sibuk dengan bakmi yang aku beli dekat parkiran mobil butik mama, sementara Anggra sibuk memainkan ponselnya begitu juga dengan Putra. Ketika aku sedang menikmati bakmi, aku merasakan getar di saku kantong baju ku dan aku melihat dua pesan masuk.
From : Putra
Miss you
From : Anggra
Gue kangen sha sama lo
Uhuk uhuk uhuk
Semua orang yang berada di ruangan ini sontak melihatku. Aku tersedak saat aku membaca pesan datang secara bersamaan dari dua kakak beradik itu. Aku segera mengambil minuman yang tersedia di meja tamu ruang kantor mama ini, dan meneguknya dengan cepat. Aku menatap Anggra dan Putra secara bergantian. Apa coba maksudnya? Pikirku
“kamu gapapa sha?” tanya mama
“hah? Gak kok ma cuman KAGET aja” ujarku penuh penekanan
Sementara mereka berdua menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Namun aku tidak menggubrisnya dan kembali memakan bakmi ku.
“ma, aku balik ya aku juga gak ngapa – ngapain disini”
“yaudah deh kalo gitu, mama juga masih lama kayanya. Nih tante ira banyak maunya” sambil terkekeh
“yaudah balik duluan ya semuanya”
“ya hati – hati sha” ujar mama
Aku kembali menggunakan sun glasses ku, hari ini matahari bersinar dengan teriknya. Ketika aku ingin membuka pintu mobilku, tiba – tiba tangan ku ada yang menahan.
“bisa bicara sebentar?” ujar Putra
Aku hanya menatapnya dengan ekspresi datarku saja. Dan membuka pintu mobil, tanpa basa basi dia mengikuti masuk kedalam mobil.
“ada apa?” Tanyaku to the point
“aku kangen sama kamu” ucapnya
Aku menatap lurus kedepan melihat jejeran mobil yang terparkir begitu saja. Aku juga put. Aku kangen sama kamu melebihi apapun. Batinku. Lidah ini terasa kelu untuk mengucapkan kalimat itu.
“aku tau kamu juga merasakan hal yang sama kan denganku?” tanyanya
Lagi lagi aku hanya diam. Tak mampu berbicara apa – apa, sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku tidak tahu harus melakukan apalagi untuk menghapadi ini semua.
“aku harus gimana lagi sha? Jujur aku gak bisa lepasin kamu gitu aja sha. Aku gak bisa lupain kamu”
Aku mecengkram kuat stir mobil, entah Putra melihatnya atau tidak aku sudah tidak mempedulikannya sama sekali. Semakin kuat aku menahan air mataku yang kini sudah siap meneteskan bulir – bulirnya.
“6 bulan kita gak ketemu, dan aku gak tau kabar kamu sama sekali sha”
“stop put, stop. Bisa keluar dari mobil gue sekarang?”
“aku masih sayang sama kamu sha”
“bisa keluar sekarang?”
“sha liat mata ku sha liat sha” paksanya sambil menarik bahuku untuk memandangnya
Dan ketika aku memandangnya disaat itu juga air mataku menetes diwajahku begitu saja. Aku hanya bisa menangis. Sekian lama aku pendam itu semua, inilah akhir dari semua ini. Sekian lama aku memendam tangisku untuknya akhirnya keluarlah air mata ini.
“ini kan yang kamu mau put? Ini kan?” ujar ku sambil terisak
“bukan ini sha, bukan tangisan ini yang aku mau” ujarnya pelan namun masih terdengar olehku
“kamu mau tau? Sekian lama aku pendam tangis ini untuk kamu put, tapi kamu tahu apa? Emang kamu peduli sama aku put?”
“........”
“enggak kan?”
“.......”
“sakit tau gak sih, liat kamu sama cewek itu. Walau itu hanya di dunia maya aja. Oke ini emang salah aku yang gak jawab pernyataan itu. Jadi yaudah lupain aja, anggap gak ada apa – apa. Dan kalau aku akan jawab itu kayanya gak berpengaruh apa dan yang ada malah memperkeruh keadaan aja.”
“enggak ini salah aku” ujarnya kini mulai membuka suara
“sekarang kamu bisa keluar put, urusan kita udah selesai”
Putra menjatuhkan dirinya pada senderan jok sambil menutupi wajahnya.
“ya tuhan kenapa jadi gini” gumamnya
“kamu hati – hati ya bawa mobilnya. Jangan ngebut” ujarnya lantas mencium puncak kepalaku dari samping
Aku segera menelungkupkan wajahku diatas stir mobil. Aku hanya bisa menangis tidak tau harus lakukan apalagi. Sakit memang ketika harus mengakhiri ini semua. Tuhan apa salah ku? Batinku
Sesampai dirumah aku lantas masuk ke kamarku menangis sepuas hati ku. Dan tanpaku perintah otakku memutar semua kenangan indahku saat bersamanya. Sakit. Ya hanya itu yang ku rasakan. Aku merasakan ada yang bergetar di tempat tidurku aku segera memencet tombol hijau di hpku
“.....”
“siang, iya benar. Ada apa ya mba?”
“......”
“oh baiklah nanti saya akan konfirmasi lagi”
Ya, aku baru saja mendapatkan kabar baik. Aku berhasil mendapatkan beasiswa ke belanda. Dan tekad ku sudah bulat. Aku akan ambil beasiswa itu. Terlebih lagi kondisi hatiku seperti ini. Aku perlu kembali menata hatiku yang telah hancur seperti ini.
ΔΔΔΔ


4 years ago chapter 4

Sesungguhnya aku benar – benar tidak memejamkan mataku. Sebisa mungkin aku menghindar darinya. Pernahkah kamu merasakan sakitnya memendam tangis ini di lubuk hatimu? Sakit bukan? Bahkan jika di bandingkan luka akibat goresan pisau pun tak akan ada artinya untukmu. Ya ini yang ku rasa saat ini. Mata ini tidak menjatuhkan bulir – bulir airnya, namun dari hatilah yang mengeluarkan itu semua. Jangan Tanya aku apakah aku merindukan Putra? Tentu saja. Namun rasa rindu telah pupus terhapus oleh sakitnya yang Putra berikan kepadaku.
Pagi ini tidak seperti biasanya aku bangun pagi sekali. Jam baru menunjukan pukul 6.00 pagi namun aku sudah rapi dengan seragam sekolahku dan siap pergi kesekolah. Entah apa yang terjadi denganku kali ini aku pun tak mengerti.
“pagi pa”
“tumben udah rapi, biasanya jam segini baru bangun”
Aku hanya menyeringai mendengar pernyataan papa tadi. Sarapan pagi ini hanya ada aku dan papa. Mama sedang pergi Jogja melihat beberapa butik yang ada di sana. Sepi? Tentu saja.
“kamu mau bawa bekal atau makan disini?” Tanya papa sambil lihat headline Koran pagi ini
“bawa aja deh pa,”
Papa lalu menyuruh Bi Inem untuk menyiapkan bekal untuk aku bawa pagi ini. Setelah siap aku segera pamit untuk pergi ke sekolah
“aku berangkat dulu ya pa,”ujar ku sambil cipika cipiki
Tiba – tiba ada yang mengetuk jendela mobilku
“kenapa ggra?” tanyaku kepada Anggra
“eh itu… eee gue boleh nebeng gak sama lo? Soalnya mobil gue masuk bengkel” sambil menggaruk tengkuknya
“boleh, yaudah masuk aja”
Di lain tempat ketika Putra keluar dari rumahnya, ia melihat Anggra masuk ke dalam mobil fasha.
“lo sekolah dimana emangnya gra?”
“di nusa bangsa,”
“loh sekolah kita deket dong ya?”
“iya, emmmm sha boleh Tanya gak?”
“apa?”
“lo udah terima Putra?”
JLEBBBBBBBBBBB
Seketika senyumku pudar mendengar pernyataan Anggra kepadaku. Aku harus jawab apa kali ini?
“enggak tau gue juga bingung gra. Kenapa lo gak Tanya sama ade lo?”
“iya ya hehehehe”
Aku sudah sampai di sekolahku. Melangkahkan kaki – kaki ini menuju kelasku di lantai 3. Namun saat ku melangkahkan kaki di anak tangga lantai 2 tiba – tiba ada yang menarik tanganku dari belakang. Putra.
Aku hanya menoleh sedikit tak ingin menatap wajahnya yang begitu aku rindukan.
“bisa ikut gue ke taman belakang?” Tanya Putra
“sebentar lagi bel” elak ku
“please.. hari ini guru ada rapat”
Aku hanya diam lalu Putra menarik pelan tanganku mengikutinya berjalan ke taman belakang. Saat ini perasaanku biasa saja dan memang sudah tidak memiliki rasa sepertinya. Aku tidak memperdulikan beberapa siswa melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan. Entahlah. Aku sudah tidak memperdulikannya kali ini. Dan memang benar – benar tidak peduli.
Semilir angin menghantam wajahku sejuk memang. Namun sejuknya wajah ini tidak berarti apa – apa untukku terlebih lagi hatiku. Tak ada yang membuka pembicaraan diantara kita berdua. Kita sibuk dengan fikiran masing – masing
“kalo gak mau ada yang di bicariin, gue balik” ujar ku sambil beranjak meninggalkan Putra
“tunggu..”
Tanganku lagi – lagi tahan olehnya. Aku hanya diam tak menoleh sedikitpun. Dengan sekali hentak Putra telah berhasil memutar tubuhku 180 derajat. Hanya ada tatapan yang tajam dariku dan di balas dengan tatapan yang meneduhkan hati ini. Tatapan yang dulu aku rindukan. Dulu.
Tiba – tiba Putra memelukku begitu eratnya, aku tidak membalas pelukannya sama sekali. Aku hanya membiarkannya dia memelukku, ingin rasanya aku membalas pelukannya namun otak ini tak mampu bekerja dengan sempurna.
“lepas”
Namun Putra semakin erat memelukku, semakin erat pelukkan ini semakin sakit hati ini mengingat kenyataan jika aku sudah mundur dari ini semua.
“lepasin gue”
Putra tidak menggubris ucapan ku
“please jangan berubah,aku sayang kamu”
Begitu pelan sangat menusuk di ulu hati ini. Bisikannya mampu membawa ke dunia imajinatif ku sesaat.
PLAKKKKKKKKKK
Tanganku melayang tepat di wajahnya. Putra hanya bisa diam menerima tamparanku. Kini wajahnya telah memerah akibat bekas tamparanku. Aku bisa melihatnya meringis kesakitan. Mungkin aku keterlaluan tapi biarlah.
“gue berubah karena lo.” Ujar ku datar
Menangis? Rasanya tidak mungkin aku menangis di hadapannya. Karena aku tidak ingin dia menganggap lemah olehnya. Rasanya aku ingin segera pergi dari tempat ini. Namun kaki ini terlalu berat untuk diajak bergerak.
“gue bisa jelasin ini semua” ujarnya
“udah puas kan buat gue sakit?” tanyaku
“maafin gue. ini salah gue harusnya dulu gue gak kenal sama lo,” kataku lagi sambil terkekeh pelan
“enggak ini salah gue. Gue yang udah lakuin kesalahan ini”
Tanpa seizin ku Putra memelukku lagi. Aku pun mencoba sebisa mungkin untuk melepasnya namun aku tak bisa. Sampai akhirnya aku hanya pasrah dalam keadaan ini.
“lepasin gue, lupain gue sekarang. Gue bukan siapa – siapa lo.” Pelan namun sangat menusuk bagi siapa pun yang mendengarnya.
Akhirnya Putra meregangkan sedikit demi sedikit tangannya dari tubuhku. Perlahan tapi pasti kini aku mulai bisa bernafas kembali. Raut wajah Putra kini sungguh tak terbacakan entahlah aku juga tak mengerti.
“oke kalo itu mau kamu dan itu bisa buat kamu bahagia” ujarnya lalu pergi meninggalkanku sendiri
Pernyataan ini lebih sakit dari yang aku bayangkan. Sampai disini kah kamu mempertahankan aku? Sampai disini kah kamu memperjuangkan aku? Suara petir mulai bergemuruh seiring hujan deras yang datang bersama air mata ini. Ya. Aku menangis kali di temani hujan yang begitu derasnya. Sungguh aku sudah tidak tahan dengan semua ini biarkan kini aku menangis sendiri disini tanpa mu.
Seketika aku tidak merasakan hujan membasahi tubuh ini. Ketika aku melihat keatas ada payung berwarna pelangi. Sambil sesenggukan aku melihat kebelakang ku dan ternyata Anggra. Ya Anggra.
“menangis lah sepuas hati mu, keluarkan semua yang ada di hati mu” ujarnya sambil memelukku.
Akhirnya tangisan ku semakin pecah di pelukan Anggra. Biarlah aku meluapkan semua sakit ini, biarlah aku merasakan sandaran tempat untuk ku menangis adalah Anggra bukan Putra.
Kini aku sudah berada di dalam mobilku. Dengan bajuku yang basah akibat kehujanan tadi kondisi tidak memungkinkan aku untuk ada di belakang roda kemudi. Sambil mencoba menghangatkanku aku membuka ponsel ku di laci dashboard ku. Beberapa kali vira mengirim pesan untukku bahkan menelfonku.
“nih pake jaket punya gue nanti lo sakit lagi,” kata Anggra sambil memakaikanku jaket
“ehhhh .. makasih” kataku yang kaget atas perlakuan Anggra
Kini aku bisa melihat dengan jelas wajah Anggra di hadapan ku. Wajahku begitu dekat dengannya, Anggra mencoba mendekati ku dan aku perlahan mundur mundur mundur dan SKAK ! aku terjebak dalam posisi yang tidak menguntungkan !
“Hachiiiiiii”
Bersin ini menyelamatkan ku. Seketika Anggra dan aku sadar. Anggra hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menghilangkan kesaltingannya. Sementara aku yang sudah deg – degkan tidak karuan hanya bisa memainkan iphone ku kembali walau sebenarnya aku tidak focus.
“ehh itu anuuu sorry ya..” kata Anggra sambil memandangku
“iya,” ujarku sambil menundukan wajahku
Please jangan blushing please banget yah. Batinku
“mau langsung pulang atau gimana?” Tanya Anggra
“terserah lo, gue ikut aja” kata ku
Anggra mengarahkan roda kemudi keluar sekolah menuju suatu tempat. Entahlah aku tidak tau yang pasti sekarang aku lelah lalu memutuskan untuk tidur sebentar di mobil
“lo cantik sha kalo lagi tidur,” gumam Anggra sambil memandangku
Walau masih setengah sadar aku dapat mendengar kalimat yang diucapkan Anggra kepadaku. Dan aku dapat merasakan tangan lembut Anggra membelai pipi ku ini. Dan akhirnya aku tertidur pulas.
“sha bangun udah sampe,” Anggra mencoba membangunkan ku
“sha ayo bangun dulu,” kali ini sambil mengelus puncak kepalaku
“hoammmmmm…..”
“ini dimana?” tanyaku yang masih mencoba menyadarkan diriku
“makan dulu yuk kamu kan belum makan dari siang”
Aku hanya mengangguk lemas menuruti permintaan Anggra. Kini Anggra sudah memegang dua bungkus kantung plastic yang berisikan makanan. Entah kapan ia membeli itu aku tidak terlalu memperdulikannya.
“nih buat lo,” ucapnya sambil member satu box berisi makanan
Aku hanya memperhatikan box tersebut yang masih ada di tangannya
“kenapa masih diliatin ini ambil buat lo, tenang gak gue racunin kok” sambil tersenyum
“makasih, hehe”
“iya sama – sama”
Selagi Anggra menghabiskan makanannya aku hanya bisa memandang keluar jendela melihat beberapa orang bermain layangan di hamparan padang rumput yang luas itu. Ingin rasanya menjadi layang – layang itu bisa terbang melihat orang lain tertawa bahagia tanpa ada luka yang tergores di hatinya.
“lho kok belum di makan? Malah bengong?” ujarnya sambil membuyarkan lamunan ku
“lo bisa main layangan?” tanyaku
Anggra menatapku dengan tatapan penuh Tanya
“bisa kenapa emangnya?”
“gue mau main layangan boleh yah?” ujarku sambil menunjukan puppy eye ku
“emmm oke lah, tapi lo harus makan dulu” kata Anggra sambil mengambil boxku
“sini gue suapin,”
Aku hanya mengangguk menuruti perintah Anggra. Tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan makananku. Kini aku sudah mengganti pakaian ku yang basah dan menggantinya dengan yang kering aku selalu membawa baju cadangan yang aku letakan di bagasi mobilku.
Kini aku mulai mencoba menerbangkan layangan dan memainkannya seperti anak kecil yang ku bawa lari kesana sini. Sedangkan Anggra hanya tersenyum sambil mengambil beberapa object di sana. Sekali mengarahkan lensa kameranya kearahku.
“lo suka fotografi yah?” tanyaku sambil mencoba mengatur nafas
“iya, emang kenapa?” jawabnya sambil mengambil memotret lalu memandangku
“mmm... enggak cuman tanya aja gue heheheh”
“dasar,” sambil mengelus puncak kepalaku
Aku pun membaringkan tubuhku diatas hamparan rumput hijau sambul memandang langit biru yang cerah. Sekejap aku memejamkan mataku merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku. Ketika aku membuka mata kembali aku melihat Anggra sudah tertidur pulas diatas rumput. Aku mengambil kamera slr miliknya lalu melihat hasil fotonya.
“bagus juga fotonya,” gumamku
“kok ada foto gue?”
“emang kenapa kalo ada foto lo? Gak boleh?” tiba – tiba si pemilik kamera itu bersuara
“hah? Oh gapapa kok” kagetku ketika Anggra melihat hasil fotonya
“yaudah gak usah salting juga kali ya, muka lo lucu kalo lagi salting”
“ihhhhh Anggra apaan sih lo rese ah”
“hahahahaha”
Anggra lantas mengambil kameranya dari tanganku dan menarik tanganku tanpa seizinku
“eh mau ngapain?”
“ayo kita foto bareng buat kenang – kenangan”
“emang lo mau kemana?”
Anggra hanya menggelengkan kepalanya, lalu segera mengarahkan kameranya ke arah ku menggunakan tripot yang sengaja ia bawa. Setelah mengatur timer ia segera berlari kearahku dan merangkulkan tangannya di pundakku.
Ceklek
“good. Sekali lagi ya sha”
Aku hanya menganggukan kepalaku menandakan setuju
ΔΔΔΔ