Senin, 30 Desember 2013

4 years ago chapter 1B

Aku pun duduk di bangku taman yang jarak tidak terlalu dekat dengan Putra dan melanjutkan kembali membaca novelku. ketika Aku sedang asik membaca tiba – tiba ada percikan rintikan air hujan. Ketika Aku menengok Putra dengan watadosnya pura – pura tidak melihatku yang sudah kesal akibat ulahnya itu.
“ck jangan iseng dong,” ujarku
“siapa juga yang iseng,” sambil tersenyum polos
Ahhhhh great ! senyum ini yang Aku rindukan telah lama. Pikirku
Aku pun melanjutkan kegiatan ku yang tertunda itu, tidak lama percikan air itu datang lagi dan lagi. Aku pun yang sudah tidak mood untuk membaca novel itu segera menutupnya. Aku dan Putra akhirnya bercanda bersama. Sedangkan Vira dan Iqbal asik berbincang. Entah Vira sengaja atau tidak sedikit menjauh dari Aku yang bercanda dengan Putra.
******
Please hentikan waktu sekarang juga ! batinku. Dan tersenyum dalam hati. Ketika Vira mengajakku untuk balik ke kelas dengan puppy eyes ku memohon dalam hati, please ini yang terakhir sebelum gue bener – bener bisa move on. Pikirku. Vira akhirnya mengerti apa yang Aku pikirkan dan mengajak Iqbal mengobrol lagi. Aku pun larut dengan tawa yang di berikan oleh Putra. Mungkin ini salah menyukai laki – laki yang sudah mempunyai pacar dan merasa bersalah sedikit. Camkan itu SEDIKIT. Toh Aku tidak terlalu memperdulikannya. Biarkan Aku bahagia untuk kali ini saja, tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Lagi pula juga pacarnya gak tau kan. Inner ku berkata
Aku yang larut dalam canda tawa dengan Putra, terkejut melihat Rio dan teman – temannya datang.
Damn! Ahh thank’s god for today ! pikirku. Vira sontak langsung melihat ku dengan tatapan yang sulit diartikan. Karena Rio datang bersama Kevin, Excel adalah anak kembar yang dulu Aku sempat menyukai beberapa waktu lalu dan Doni.
Rio yang ada keperluan ekskul dengan Vira langsung menghampiri Vira diikuti Kevin dan Excel. Sementara Rio,Vira sedang membicarakan ekskul Kevin dan Excel hanya menjadi pendengar sedangkan masih bercanda ria dengan Putra.
Sesaat kemudian Aku ikut gabung dengan Rio,Vira,Kevin,dan Exel juga Doni yang berujung dengan candaan bersama diantara kita. Tidak lama kemudian Rio dan teman – teman nya kembali ke kelas dan kembali hanya ada Aku,Vira,Putra, dan Iqbal.
Thank’s god for today !

ΔΔΔΔ

Hari ini hari terakhir masuk sekolah sebenarnya Aku sudah benar – benar mumet untuk sekolah hari ini, Aku sebenarnya ragu mau masuk atau tidak tapi mengingat Aku ada keperluan dengan beberapa guru di sekolah Aku pun segera mandi.
06.10 WIB
Aku masih duduk manis di meja makan sambil menghabiskan roti ku. Ah sungguh berat hati ini untuk melangkahkan kaki di hari terakhir sekolah ini. Setelah roti habis Aku segera pamit dengan papa mama seperti biasa dan tak lupa Aku memasang headphone ku dan berangkat ke sekolah.
Aku segera melangkahkan kaki ku ke lantai tiga dimana kelasku berada. Namun ada hal aneh yang Aku lihat, mengapa banyak anak kelas X di sini? Aku tidak terlalu ambil pusing dan langsung duduk di bangku seperti biasanya dengan headphone yang masih terpasang. Sampai ada orang memukul bahu
“lo ngapain disini?” Tanya Ryan
“gue? Ya duduk lah,” ujarku singkat
“ke aula sekarang ! ada pengarahan,” kata Ryan yang sambil membawa tasnya bergegas ke aula
Tak banyak kata lagi Aku segera turun ke lantai dua dimana aula berada. Ketika Aku ingin menuruni tangga karena Aku yang ceroboh, Aku hampir menabrak teman ku. Dan hal itu yang membuat Putra mentertawakan Aku.
Heh? Sejak kapan dia disini?. Batinku. Sambil melihat punggung Putra yang semakin lama hilang di telan keramaian.
Setelah selesai pengarahan Aku segera pulang, sungguh sepi tanpa kehadiran Vira disini. Ia tidak masuk karena sakit.
Kali ini membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di rumah, namun betapa terkejutnya Aku ketika melihat papa dan mama ku sedang memantau beberapa orang yang mengeluarkan barang – barangdari rumah ku.
“loh pa kita mau kemana?” Tanya ku kepada papa
“kita akan pindah rumah sayang,” ujar papa ku sambil memainkan ponselnya
“WHAAATTTT?” sontak pernyataan papa membuat ku kaget. Bagaimana tidak papa sebelumnya tidak memberitahuku kalau kita akan pindah rumah.
“tenang, barang kamu udah selesai di beresin. Di kamar kamu udah gak ada apa – apa” kata papa santai
Apa – apaan ini? Pindah rumah tidak memberitahu terlebih dahulu. Pikirku.
Aku segera masuk ke mobil setelah papa dan mama selesai memantau barang – barang kami yang akan di bawa ke rumah baru kami. Sementara motor ku akan ada orang suruhan papa yang akan membawanya. Ya walaupun keluarga ku termasuk orang berada namun Aku tak mau menampakan itu di sekolah.
Tak berapa lama kemudian Aku telah sampai di rumah yang bisa di bilang cukup megah dengan nuansa minimalis bercat putih. Aku segera melangkahkan kaki menuju lantai dua dimana kamarku berada. Kali ini Aku memiliki kamar yang luas yang telah di tata rapi oleh orang suruhan papa. Sampai saat ini papa ataupun mama belum sama sekali menjelaskan alasan kepindahan rumah kami.
Aku yang baru sadar masih memakai seragam sekolah segera bersih – bersih lalu mengganti baju ku dengan hot pants dan kaos putih ku. Sambil mengikat rambutku, Aku turun ke bawah karena mama sudah memanggilku dari tadi.
“kenapa ma?” Tanya ku yang melihat mama sibuk dengan beberapa kantung plastic di meja dapur
“nih, kamu kasih ke tetangga sebelah kita” ujar mama sambil memberiku beberapa kantung plastic
“apaan nih? Banyak amat” Tanya ku lagi
“bingkisan, oh ya kamu yang baik ya soalnya tetangga kita temen mama” ujar mama “ah ya namanya Ira”
“hemmm”
Aku langsung pergi ke rumah tetangga sebelah untuk memberikan bingkisan kesil dari mama ku yang notabennya adalah teman mama ku itu.
Ting tong
Betapa terkejutnya Aku ketika membalikkan badan ku ketika yang membukakan pintu adalah Putra. Ya Putra Dwijaya.
Damn. Kenapa harus gue sih? Kenapa harus gue yang tetanggaan sama dia? Dan kenapa pula harus dia yang jadi anaknya temen mama. Shit. Umpatku dalam hati.
Aku segera menyadarkan diri setelah beberapa menit terhanyutkan oleh pikiranku. Dan seakan Aku tidak pernah memikirkan apa – apa dan berpura – pura Aku tidak mengenalnya.
“Tante Ira ada?” Tanya ku dengan muka sedatar mungkin
“ada, masuk dulu. Nanti gue panggil.” Ujar Putra.
Aku mengikuti Putra dari belakang sambil membawa bingkisan dari mama yang di titipkan kepada ku.
“kamu Fasha ya? Anaknya Alyssa?” ujar Tante Ira ketika melihat ku ketika memasuki ruang tamu
Sementara Putra hanya melihat ku dan dan mamanya dengan tatapan bingung begitu juga dengan diriku.
“iya Tante, ini ada titipan dari mama buat Tante. Mohon bantuannya Tante” ujar ku sambil memberikan bungkusan dari mama.
“wah Alyssa jadi ngerepotin aja” ujar Tante Ira mengambil bungkusannya
“oh ya berhubung kamu baru tinggal disini, gimana kalo kamu sama Putra jalan - jalan sekitar sini dulu? Mau yah?” Tanya Tante Ira kepada ku
Sontak Aku kaget mendengar pernyataan Tante Ira barusan. Apa Tante bilang? Jalan – jalan? Sama Putra? What the hell !! pikirku. Dengan tatapan bingung Aku mengaggukan kepala.
“oh kenalin ini anak Tante, namanya Putra.” Tante Ira memperkenalkan Putra kepada ku
Udah tau, dia malah satu sekolah sama gue. Batinku.
“Putra,” ujar Putra sambil memberikan tangannya kepada ku sambil tersenyum
Awalnya Aku agak ragu menerima uluran tangan dari Putra, berhubung Aku ingin cepat keluar dari rumah ini Aku segera menjabat tangannya
“fasha” dengan poker face ku.
Tanpa basa basi lagi Aku segera keluar yang sebelumnya pamit dengan Tante Ira. Ya tentu saja diikuti oleh Putra. Selama berkeliling tak ada yang memulai pembicaraan diantara kami. Hanya suara anak kecil yang sedang bermain dan beberapa pedagang.
Putra yang tidak tahan dengan kebisuan di antara Aku dengannya langsung membuka pembicaraan
“jadi, kenapa lo pindah ke sini?” Tanyanya kepada ku
“gak tau gue, ini aja gue baru pulang dari sekolah tau – tau barang – barang gue udah di luar semua” Jawabku yang masih kesal dengan kejadian tadi
“jadi lo gak tau kalo lo mau pindah?” ujar Putra sambil terkekeh
Aku hanya menggelengkan kepalaku
“gak nyangka kita tetanggaan yah?”
Sontak Aku mendongakkan kepala ku, heh apa maksudnya dia bicara seperti itu? Pikirku
Aku hanya menganggukan kepala saja. Jujur Aku masih shock jika Aku harus memiliki tetangga seperti dia. Aku tak pernah membayangkannya. Yah kalo gini kapan gue move on nya? Mungkin Vira kalo gue certain bakalan shock juga dan bisa jadi dia akan heboh sendiri dan aku akan di cecar dengan beribu pertanyaan konyol darinya. Batinku.
Kami kini sudah berada di bangku taman menikmati matahari terbenam di sini. Memancarkan pesona tersendiri untukku, di temani yah bisa di bilang orang yang ‘dulu’ Aku sukai. Tapi itu dulu, entah untuk sekarang ini.
Tiba – tiba terdengar deringan ponsel milik Putra, lalu ia segera mengangkatnya
“halo,”
“lagi di rumah kenapa?”
“yah Aku gak bisa, mau temenin mama belanja.”
“cih pinter banget bohong lo” gumam ku pelan
“iya maaf ya, bye”
Pasti Riva. Pikirku.
“siapa?” Tanya ku
“pengen tau banget?” ujarnya
“ck”
“hahaha riva”
“oh, bisa banget bohong nya” sindirku sambil melihat matahari yang perlahan tenggelam
“abisnya gue males sama dia”
Aku yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahiku, menatapnya bingung. Entah apa yang ada di otak nya saat ini.
“dia kan cewek lo?”
“terus? Gue bosen sama dia.” Ujarnya sarkatis
WHAT THE HELL?????? DIA BILANG APA? BOSEN? Pikirku.
“kenapa lo jadian sama dia?”
Keluarlah alur yang mengalir begitu saja dari mulutnya itu. Dan dari ceritanya itu aku baru tau kalau dia baru mengenal Riva beberapa hari saja. Selain itu dia juga tidak tau apa – apa tentang Riva, dan awalnya dia jadian adalah hanya untuk menjalin sebuah status saja. Dengan maksud lain dia memang tidak punya perasaan apa – apa dengan Riva.
“dari awal gue masuk SMA gue udah suka sama kakak kelas,” ujarnya kepadaku
Sontak aku melihatnya yang berada di samping ku sambil menaikkan alis ku sebelah. Hei permainan macam apa lagi yang di berikan olehnya? Pikirku. Sungguh aku tak mengerti jalan pikirannya juga apa yang ada di otaknya ini.
“so kenapa lo jadian sama riva?” Tanya ku
“gue pesimis kalo gue gak bisa jadi pacarnya. Secara gue baru masuk sini, dan gue langsung suka sama kakak kelas. Imposible aja rasanya,”
“kenapa gak lo coba aja?”
“udah kok,”
“terus responnya dia apa?”
“welcome sih, tapi..”

“but what?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar